Ni Komang Sri Wahyuni
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARYA TARI NGRAJANG AYUN I Gede Surya Yoga; I Kt. Suteja; Ni Komang Sri Wahyuni
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6076

Abstract

Abstrak Upacara tradisi kearifan lokal di Desa Pupuan yaitu Tari Rejang Ayunan memiliki nilai kesakralan, serta diyakini sebagai media persembahan atas rasa syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan keberlimpahan anugrah terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan kaki Gunung Batukaru. Gerak-geraknya lincah simbol kebersamaan yang gembira, namun esensinya sangat spiritual mengajak pikiran melayang ke alam mistis, sehingga pencipta terobsesi untuk mentransformasi ke dalam karya tari kontemporer berjudul Karya Tari Ngrajang Ayun bermakna ungkapan rasa kegembiraan. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya tari Ngrajang Ayun, berpijak pada metode Angripta Sasolahan (menciptakan tari-tarian) yaitu; Ngarencana adalah tahapan paling awal dalam proses penataan sebuah karya tari. Nuasen adalah suatu tahapan ritual yang dilakukan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dapat mempermudah proses penciptaan. Makalin adalah tahapan yang dilakukan untuk memilih material yang mendukung terciptanya karya tari Ngrajang Ayun. Nelesin adalah proses pembentukan, hasil dari proses improvisasi gerak yang telah dipastikan mendapatkan motif gerak, pengorganisasian ke dalam bentuk. Ngebah adalah pementasan perdana dari sebuah hasil karya tari, bertujuan untuk mengevaluasi atau mengadakan perubahan-perubahan. Karya ini, diharapkan mampu memberi penyegaran terhadap pengembangan tari tradisi yang bersifat sakral ke dalam tari kontemporer. Karya tari Ngrajang Ayun adalah karya tari berbentuk kontemporer menggambarkan tentang ritual perayaan kesuburan untuk masyarakat, ditarikan oleh 19 orang penari yang terdiri dari 8 orang penari laki-laki dan 11 orang penari perempuan yang diiringi dengan Musical Instrument Digital Interface (MIDI). Kata Kunci: Rejang, Gembira, Spiritual, Kontemporer.
Tari Samsaya Citta: Sebuah Transformasi Konsep Keraguan Perempuan Pasca Pernikahan Menjadi Kesadaran Dalam Bentuk Karya Tari Kontemporer Ni Nyoman Wina Kristina Dewi; Anak Agung Ketut Oka Adnyana; Ni Komang Sri Wahyuni
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 6 No 1 (2026): Jurnal IGEL: Journal Of Dance
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v6i1.6532

Abstract

Samsaya Citta merupakan karya tari yang mengangkat tema perjalanan batin perempuan dalam memaknai kehidupan setelah memasuki dunia pernikahan, terutama terkait anggapan bahwa pernikahan adalah beban yang menimbulkan ketakutan. Karya ini diciptakan tidak hanya sebagai pertunjukan estetis, tetapi juga sebagai medium refleksi untuk menunjukkan bahwa persepsi negatif tersebut tidak selalu benar dan tidak semua pengalaman orang lain menjadi kenyataan bagi setiap individu. Proses penciptaan karya berlandaskan teori estetika Djelantik serta menggunakan metode penciptaan Langon yang mencakup tahap ungon (penggalian ide), ingon (penguatan konsep melalui riset dan perancangan struktur), dan angon (eksekusi karya secara kolaboratif). Wujud karya disajikan dalam bentuk tari kelompok yang melibatkan delapan penari perempuan, menggambarkan perjalanan dari masa lajang, munculnya isu-isu yang menimbulkan ketakutan terhadap pernikahan, hingga kesadaran bahwa setiap perjalanan hidup bersifat berbeda. Karya ini memadukan koreografi kontemporer, tata rias minimalis bold, tata busana, iringan musik MIDI, serta elemen artistik seperti video projection, lampu tangan, dan lampu lilin elektrik . Pertunjukan dipresentasikan di panggung proscenium Natya Mandala ISI Bali dengan durasi 12 menit. Secara keseluruhan, Samsaya Citta mengusung pesan bahwa seseorang tidak seharusnya takut melangkah hanya karena terpengaruh oleh perkataan orang lain