This study analyzes the practice of digital literacy in the production and curation of linguistic and literary educational content on Instagram @dutabahasariau. The focus is directed at examining how the components of digital literacy proposed by Hague and Payton are implemented and integrated into content production strategies. This research employs a descriptive qualitative approach through content analysis of seven Instagram reels selected purposively based on thematic variation and audience engagement, complemented by in-depth interviews with the account administrator. The results of the study show that digital literacy is not applied as separate skills, but as an integrated practice consisting of three main dimensions: technical (functional skills), strategic (creativity, collaboration, and effective communication), and reflective (information evaluation, critical thinking, and socio-cultural awareness). The integration of these dimensions plays a crucial role in shaping the quality and reach of educational content on social media. However, the implementation remains suboptimal in terms of technical skill distribution, sustainability of collaboration, and the development of interactive spaces that encourage critical audience engagement. This study highlights digital literacy as a strategic capacity in content production and contributes to the advancement of digital literacy studies in social media contexts. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik literasi digital dalam produksi dan kurasi konten edukatif kebahasaan dan kesastraan pada akun Instagram @dutabahasariau. Fokus penelitian diarahkan pada implementasi dan integrasi komponen literasi digital menurut Hague dan Payton dalam strategi produksi konten. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis isi terhadap tujuh konten reels yang dipilih secara purposif berdasarkan variasi tema dan tingkat keterlibatan audiens, serta wawancara mendalam dengan pengelola akun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital terwujud sebagai praktik yang terintegrasi dalam tiga dimensi utama, yaitu teknis (keterampilan fungsional), strategis (kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi efektif), serta reflektif (kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, dan pemahaman sosial budaya). Integrasi ketiga dimensi tersebut berperan dalam menentukan kualitas dan jangkauan konten edukatif di media sosial. Namun, implementasinya belum sepenuhnya optimal, terutama pada pemerataan keterampilan teknis, keberlanjutan kolaborasi, serta pengembangan interaksi yang mendorong partisipasi kritis audiens. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital berfungsi sebagai kapasitas strategis dalam produksi konten kebahasaan serta berkontribusi pada pengembangan kajian literasi digital di media sosial.