Sutrisno Sutrisno
Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Apakah "Pekerja" dalam Matius 9:37 Hanya Misionaris? Sebuah Reinterpretasi berdasarkan Teologi Vokasi Neo-Calvinis Sutrisno Sutrisno; Jeffry Johanis Rindengan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 9 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/gh9qw556

Abstract

The term ergatai (workers) in Matthew 9:37–38 has commonly been interpreted as referring to pastors, evangelists, or missionaries engaged in formal church ministry. This study reexamines the meaning of the term through a Neo-Calvinist theological perspective to address its relevance for believers in their professional vocations as a response to God's mission. The research employs a qualitative library research method supported by exegetical, theological, and hermeneutical analysis. Primary data are drawn from Scripture, particularly Matthew 9:35–38, while secondary sources include biblical theology, missiology, and the works of Abraham Kuyper, Herman Bavinck, and Klaas Schilder. The findings demonstrate that ergatai should not be restricted to ecclesiastical workers but includes all believers restored in the image of God and called to participate in His mission through diverse spheres of life. Within the Neo-Calvinist framework, the Great Commission and the Cultural Mandate are complementary dimensions of Christian calling. Consequently, professional work can function as a means of witnessing to the Kingdom of God in society. This study concludes that Matthew 9:37–38 calls the church to equip believers for faithful service both within ecclesiastical ministry and in the public sphere.   Interpretasi terhadap istilah ergatai (pekerja) dalam Matius 9:37–38 umumnya dipahami sebagai rujukan kepada pendeta, penginjil, atau misionaris yang terlibat dalam pelayanan gerejawi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kembali makna istilah tersebut melalui perspektif teologi Neo-Calvinisme untuk menjawab pertanyaan mengenai relevansinya bagi orang percaya dalam pekerjaan profesionalnya sebagai respons terhadap panggilan misi Allah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang didukung analisis eksegetis, teologis, dan hermeneutik. Sumber data primer berasal dari Alkitab, khususnya Matius 9:35–38, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari literatur teologi biblika, misiologi, dan pemikiran Abraham Kuyper, Herman Bavinck, serta Klaas Schilder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah ergatai tidak terbatas pada pekerja gerejawi, melainkan mencakup seluruh orang percaya yang telah dipulihkan menurut gambar Allah dan dipanggil untuk berpartisipasi dalam misi-Nya melalui berbagai bidang kehidupan. Dalam kerangka Neo-Calvinisme, Amanat Agung dan Mandat Budaya dipahami sebagai dua aspek yang saling melengkapi dalam panggilan Kristen. Dengan demikian, pekerjaan profesional dapat menjadi sarana kesaksian Kerajaan Allah di tengah dunia. Penelitian ini menegaskan bahwa Matius 9:37–38 merupakan panggilan bagi gereja untuk mempersiapkan orang percaya agar melayani Kristus secara utuh, baik dalam pelayanan gerejawi maupun dalam ruang publik.