Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Responsivitas Pemerintah Kota Pekanbaru dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Tahun 2024 Alaisya Amana Fazira; Auradian Marta
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1209

Abstract

Kota Pekanbaru pada tahun 2024 menjadi 551 kasus setelah sempat menurun menjadi 291 kasus pada tahun 2023, dengan disertai dua korban jiwa. Peningkatan kasus sebesar 89,3% dalam satu tahun ini mengindikasikan adanya persoalan serius dalam keberlanjutan program penanggulangan DBD yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan menganalisis responsivitas Pemerintah Kota Pekanbaru dalam penanggulangan DBD tahun 2024 serta mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif dan desain studi kasus pada Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi terhadap informan dari Dinas Kesehatan, Puskesmas Sidomulyo, Dinas PUPR, dan Kecamatan Tuah Madani. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responsivitas Pemerintah Kota Pekanbaru termasuk kategori cukup memadai namun belum optimal. Pada dimensi listening capacity, pemerintah telah memiliki mekanisme pelaporan berjenjang, namun belum didukung integrasi data lintas sektor. Pada dimensi learning capacity, evaluasi berkala mendorong pergeseran dari fogging reaktif menuju PSN yang lebih preventif. Pada dimensi acting/adaptive capacity, pemerintah memiliki SOP dan cadangan logistik, namun kapasitas operasional kecamatan masih terbatas. Pada dimensi collaborative capacity, kolaborasi lintas sektor belum terlembaga secara formal. Penelitian merekomendasikan formalisasi Pokjanal DBD, integrasi data surveilans dan lingkungan, penguatan kapasitas kecamatan, serta penguatan partisipasi masyarakat berbasis komunitas.