Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dampak Peralihan Masjid Dari Sakral Ke Wisata Religius Masjid Agung Syahrun Nur Tapanuli Selatan, Sumatera Utara Syifa Azrina Hutagalaung; Noor Fadlli Marh
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.2129

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan Masjid Agung Syahrun Nur Tapanuli Selatan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata religius. Perubahan fungsi tersebut dipengaruhi oleh daya tarik arsitektur, kebersihan, kenyamanan, aksesibilitas, serta promosi melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak peralihan fungsi masjid terhadap kehidupan masyarakat, khususnya pada aspek ekonomi, sosial, budaya, dan keberlangsungan nilai-nilai kesakralan masjid. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif di Masjid Agung Syahrun Nur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Informan dipilih secara purposive yang meliputi pengurus BKM, imam masjid, jamaah, wisatawan, pedagang, dan masyarakat sekitar. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan perspektif Teori Strukturasi Anthony Giddens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peralihan fungsi masjid menjadi destinasi wisata religius terjadi secara alami karena tingginya minat masyarakat untuk berkunjung dan beribadah. Perubahan ini memberikan dampak positif terhadap perekonomian melalui meningkatnya peluang usaha dan pendapatan pedagang, memperluas interaksi sosial, memperkuat silaturahmi, serta mendorong berkembangnya budaya religius. Di sisi lain, terdapat tantangan berupa potensi terganggunya kekhusyukan ibadah akibat aktivitas wisata. Namun, kesakralan masjid tetap terjaga melalui penerapan tata tertib, pembinaan keagamaan, dan peran aktif pengurus BKM serta tokoh agama, sehingga fungsi ibadah dan wisata religius dapat berjalan secara berdampingan.