Abstract The 47th Camp Pria Sejati Bandung (PSB) community service activity aimed to shape men's character based on holistic, relevant, and transformative Christian values within the context of family and society. The camp was conducted over two days and included a series of preparatory sessions, learning sessions, discipleship, and a 49-day follow-up devotional program in small groups. The methods employed included participatory, reflective, and educational approaches, with materials derived from Edwin Louis Cole’s book Maximized Manhood. A total of 32 participants were organized into small groups facilitated by nine trained facilitators. The activity resulted in personal transformation, deeper spiritual engagement, and renewed commitment to fulfilling roles as family leaders and community members. Challenges encountered included participants' diverse spiritual backgrounds and time commitment constraints; however, these were addressed effectively through relational and community-based strategies. Evaluation results indicated that the majority of participants demonstrated increased understanding of men's responsibilities in both domestic and social roles. This program has the potential to serve as a replicable model for men's empowerment rooted in spiritual values across various communities. Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ‘Camp Pria Sejati Bandung’ (PSB) ke-47 bertujuan untuk membentuk karakter pria berdasarkan nilai-nilai Kristiani yang holistik, relevan, dan transformatif dalam konteks keluarga dan masyarakat. Camp ini diadakan selama dua hari dengan rangkaian pembekalan, sesi pembelajaran, pemuridan, dan follow-up berupa renungan berkelompok selama 49 hari. Metode yang digunakan mencakup pendekatan partisipatif, reflektif, dan edukatif dengan materi yang bersumber dari buku ‘Maximized Manhood’ karya Edwin Louis Cole. Sebanyak 32 peserta terlibat dalam kelompok kecil yang difasilitasi oleh 9 fasilitator. Kegiatan ini menghasilkan transformasi personal, keterlibatan rohani yang lebih dalam, dan komitmen baru dalam menjalankan peran sebagai pemimpin keluarga dan anggota masyarakat. Tantangan yang dihadapi meliputi latar belakang rohani yang beragam serta komitmen waktu peserta, namun berhasil diatasi melalui pendekatan relasional dan komunitas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mayoritas peserta mengalami peningkatan pemahaman tentang tanggung jawab pria dalam peran domestik dan sosial. Program ini berpotensi menjadi model pemberdayaan pria berbasis nilai rohani yang dapat direplikasi di berbagai komunitas lain.