Penerapan Internet of Things (IoT) dalam sistem pertanian presisi menuntut penggunaan sensor yang akurat dan efisien untuk memantau parameter lingkungan seperti suhu dan kelembaban, terutama pada wilayah beriklim rawa yang dinamis dan memiliki fluktuasi tinggi pada permukaan air. Lahan rawa lebak menjadi lokasi strategis bagi pengembangan pertanian berkelanjutan karena perannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional, meskipun produktivitasnya masih rendah akibat keterbatasan teknologi pemantauan lingkungan. Kondisi rawa lebak yang ditandai oleh perubahan muka air yang cepat, kelembaban tinggi, dan iklim mikro yang tidak stabil menuntut penggunaan sensor dengan akurasi serta bisa memiliki keandalan tinggi. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja dua sensor suhu dan kelembaban, yakni DHT22 dan DHT11, pada sistem pemantauan berbasis Arduino Uno R3 untuk mendukung pengelolaan pertanian rawa. Metode penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan PRISMA. Dari 150 artikel yang dihimpun, sebanyak 47 publikasi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil menunjukkan bahwa sensor DHT22 memiliki akurasi lebih tinggi (±0,5°C; ±2% RH), rentang pengukuran lebih luas, serta performa yang lebih stabil pada kelembaban tinggi dibandingkan DHT11 (±2°C; ±5% RH). Walaupun DHT11 lebih ekonomis dan cepat merespons, keterbatasannya menjadikannya kurang ideal untuk kondisi rawa lebak yang ekstrem. Arduino Uno R3 dinilai sebagai platform yang efisien untuk integrasi sistem pemantauan berbasis IoT secara real-time. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi teknis dalam pengembangan sistem pemantauan presisi di lahan rawa lebak guna meningkatkan produktivitas dan adaptasi terhadap perubahan iklim.