Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama proses aerasi terhadap produksi biourin dari urin sapi. Selama penelitian dilakukan pengamatan terhadap empat parameter yaitu TDS (Total Dissolved Solids), EC (Electrical Conductivity), Ph (Derajat Keasaman), dan Temperatur. Temperatur fermentasi urin pada perlakuan A (pengadukan 0 menit), B (pengadukan 30 menit), C (pengadukan 60 menit), D (pengadukan 90 menit), dan E (pengadukan 120 menit). Titik puncak temperatur fermentasi dan gradien perubahan temperatur. Temperatur mengalami peningkatan pada perlakuan pengadukan nol menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit, dan 120 menit berturut-turut yaitu: 0 – 9,56 hari, 0 – 9,02 hari, 0 – 7,31 hari, 0 – 6,0 hari, dan 0 – 7,65. Sedangkan temperatur mengalami penurunan mulai hari ke 9,56; 9,02; 7.31; 6.0 dan 7.65. Penurunan pH yang diamati selama fermentasi disebabkan oleh penguraian bahan organik oleh mikroorganisme menjadi senyawa yang lebih sederhana. Ini termasuk asam organik, selama dekomposisi molase dan pematangan POC. Akibatnya, pelepasan kation berkurang dan produksi asam meningkat, yang mengakibatkan penurunan pH. Laju peningkatan TDS dalam urin sapi fermentasi dengan perlakuan (P1, P2, P3, P4, dan P5) Pada semua perlakuan, hubungan antara waktu fermentasi dan nilai TDS bersifat linear, dengan nilai TDS meningkat seiring bertambahnya waktu fermentasi. Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan nilai EC yang signifikan antar perlakuan (P1, P2, P3, P4, dan P5) selama fermentasi dan di akhir proses. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pengadukan selama 120 menit merupakan perlakuan terbaik untuk nilai EC. Perubahan nilai EC bio-urin berkaitan dengan proses fermentasi, perubahan pH, dan nilai TDS.