Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MENAKAR PROFITABILITAS SEMU ATAS HIBAH LAHAN: STUDI KASUS AKUNTANSI AGRIKULTUR KELOMPOK TANI BINAAN BUMN Yati Nurhajati; Anisa Nurul Latifah; Della Fadilah; Dyah Safitri
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 9 No. 2 (2026): Vol. 9 No. 2 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v9i3.62398

Abstract

Sektor pertanian hortikultura memiliki proses pengelolaan keuangan yang cukup kompleks karena melibatkan aset biologis yang terus mengalami pertumbuhan. Hal ini pada umumnya mempengaruhi pengelolaan keuangan dan pembuatan laporan keuangan kelompok tani skala kecil. Kondisi ini menyulitkan ketika kelompok tani menerima bantuan dari program corporate social responsibility (CSR) suatu instansi, dan bantuan tersebut sering kali tidak dicatat dalam laporan keuangan. Akibatnya, biaya produksi tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan akuntansi agrikultur dan akuntansi hibah serta menyusun rekonstruksi laporan keuangan pada Kelompok Tani Sayuran Hortikultura binaan PT Pindad. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi pada budidaya cabai keriting dan bunga kol, serta dokumentasi transaksi keuangan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran aset biologis berbasis nilai wajar sesuai PSAK 241 tidak andal diterapkan akibat fluktuasi harga ekstrem di tingkat tengkulak lokal. Oleh karena itu, penggunaan biaya historis berdasarkan SAK EMKM dinilai lebih andal untuk mencatat pengeluaran kas riil kelompok tani dalam menghasilkan pendapatan penjualan. Berdasarkan PSAK 220, hibah non-moneter berupa hak pakai lahan dan utilitas diukur menggunakan nilai wajar komersial sejenis yang diakui secara berpasangan sebagai beban operasional sekaligus pendapatan hibah. Perbandingan menunjukkan bahwa meskipun kedua metode menghasilkan laba bersih operasional akhir yang sama, penggunaan biaya historis murni tanpa integrasi PSAK 220 dapat merugikan perencanaan jangka panjang kelompok tani karena memunculkan profitabilitas semu akibat menyembunyikan beban penyusutan dan sewa lahan yang riil. Rekonstruksi keuangan berhasil menakar profitabilitas semu tersebut guna menyajikan struktur biaya produksi yang logis bagi kelompok tani.