Ada korelasi kuat antara limbah laundry dan kerusakan lingkungan karena kecenderungannya untuk mencemari. Pencemaran limbah cair terjadi di seluruh tahap akhir pencucian pakaian dan sebagian besar terdiri dari pelembut kain dan deterjen. Limbah ini menyebabkan kekeruhan dan mencegah sinar matahari mencapai air. Biasanya, limbah ini segera dibuang. Elektrokoagulasi adalah salah satu cara limbah cucian dapat diolah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana pengaruh penurunan TDS, TSS, tegangan, suhu dan waktu pada pengolahan air laundry dengan metode elektrokoagulasi. Tes kinerja yang dilakukan dengan mengisi 5 liter air laundry kedalam reaktor elektrokoagulasi dan menggunakan tegangan listrik 10 volt, 15 volt, 20 volt dan 25 volt untuk setiap pengujian dengan waktu observasi untuk setiap tes adalah 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan adalah variasi tegangan dan waktu yang berbeda. Pengukuran TDS, EC, pH dan suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer dan untuk pengukuran TSS dilakukan dengan menggunakan metode gravimetri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tegangan 25 volt dan waktu kontak selama 120 menit dapat menurunkan kadar TDS dari 1378 mg/L menjadi 227 mg/L, untuk kadar TSS dari 62 mg/L menjadi 13 mg/L, untuk EC dari 1234 µs/cm menjadi 453 µs/cm dan untuk suhu dan pH yang dihasilkan ialah naik dikarenakan energi listrik yang diberikan pada elektroda sehingga menyebabkan panas. Berdasarkan analisa yang dilakukan pada air limbah laundry sesuai dengan Standar Baku Mutu Air Limbah Laundry PermenLHK 68/2016.