Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan sebuah perjalanan transformatif yang memberikan peluang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan keberagaman budaya di Indonesia. Pengalaman penulis saat mengikuti program PMM di Daerah Istimewa Yogyakarta memicu dinamika psikologis berupa culture shock terhadap aspek kuliner, geografis, gaya hidup, hingga munculnya perasaan homesick. Fenomena sosiokultural dan refleksi personal tersebut diangkat sebagai landasan utama dalam perwujudan karya akhir ini. Rumusan ide penciptaan dalam tugas akhir ini adalah bagaimana memvisualisasikan pengalaman serta momen-momen menarik selama mengikuti PMM di Yogyakarta ke dalam karya seni digital painting. Proses penciptaan karya ini mengacu pada lima tahapan teori konsursium seni, meliputi tahap persiapan (observasi dan pengumpulan data), elaborasi (pendalaman gagasan dan analisis masalah), sintesis (pemantapan konsepsi makna karya), realisasi konsep (pembuatan sketsa hingga eksekusi digital), dan penyelesaian (finishing dan pameran). Media penggarapan karya menggunakan perangkat keras berupa iPad dan stylus pen dengan perangkat lunak Procreate. Karya kemudian diproduksi secara fisik (print) di atas media kanvas berukuran 100 cm x 100 cm dengan pewarnaan berbasis sistem cetak (CMYK). Berdasarkan metode tersebut terwujud sepuluh karya seni digital painting berjudul “Kopi Jos”, “Jejak Persatuan”, “Menyelami Perbedaan (Disorientasi Arah Mata Angin)”, “Harmoni Dalam Keberagaman”, “Gudeg : Sensasi Rasa Pertama”, “Masangin : Alun Alun Kudul”,” Harta Tanah Air Ku”, “Transformasi Diri”, “Cerita Dan Angkringan”, “Tri Pusaka”.