ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan modernisasi dan kehidupan perkotaan di Desa Labuhan Dalam, Bandar Lampung, yang memengaruhi pemaknaan Banten Pejati di kalangan umat Hindu Bali. Studi ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam makna simbolis, fungsi, dan dinamika pewarisan Banten Pejati sebagai sarana peribadatan ritual. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis serta menggunakan alat analisis teori interaksionisme simbolik Herbert Mead. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Banten Pejati merupakan sarana komunikasi spiritual yang sarat dengan simbol-simbol kosmologis Hindu. Meskipun terjadi pergeseran praktis dari pembuatan mandiri ke pembelian banten siap pakai akibat tuntutan ritme kehidupan kota, komodifikasi ini tidak mengurangi kesakralannya. Umat Hindu perkotaan melakukan negosiasi terhadap kesucian banten tersebut melalui ritual penyucian diri menggunakan air suci. Sebagai simpulan, esensi spiritual Banten Pejati sebagai simbol ketulusan (jati) tetap lestari dan adaptif di tengah arus modernitas perkotaan. ABSTRACT This research is motivated by the challenges of modernization and urban life in Labuhan Dalam Village, Bandar Lampung, which influence the interpretation of Banten Pejati among Balinese Hindus. This study aims to analyze in-depth the symbolic meaning, function, and dynamics of the inheritance of Banten Pejati as a means of ritual worship. The method used is qualitative, with a phenomenological approach and the analytical tools of Herbert Mead's symbolic interactionism theory. The research findings indicate that Banten Pejati is a medium of spiritual communication imbued with Hindu cosmological symbols. Despite a practical shift from self-production to the purchase of ready-made banten due to the demands of urban rhythms, this commodification does not degrade its sacredness. Urban Hindus negotiate the sanctity of the banten through self-purification rituals using holy water. In conclusion, the spiritual essence of Banten Pejati as a symbol of sincerity (jati) remains sustainable and adaptive amidst the currents of urban modernity.