Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Revitalisasi Kampung Adat Ruteng Pu’u sebagai Model Pembangunan Kolaboratif Berbasis Budaya di Kabupaten Manggarai: Revitalization of Ruteng Pu'u Traditional Village as a Model of Culture-Based Collaborative Development in Manggarai Regency Hipolitus Demoris Ngambur; Frans Wilmat Muskanan; Yohanes Jimmy Nami
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11724

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis revitalisasi kolaboratif Kampung Adat Beo Ruteng Pu’u sebagai model pembangunan berbasis budaya di Kabupaten Manggarai. Revitalisasi dilakukan sebagai upaya mengatasi rendahnya kunjungan wisatawan, keterbatasan fasilitas pendukung wisata budaya, menurunnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan adat, serta tantangan modernisasi yang dapat memengaruhi keberlanjutan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan dianalisis menggunakan Teori Collaborative Governance dari Ansell dan Gash (2008). Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Kampung Adat Beo Ruteng Pu’u dilaksanakan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, komunitas pariwisata, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut berkontribusi terhadap pelestarian budaya, penataan ruang adat, peningkatan partisipasi masyarakat, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya. Namun, proses revitalisasi masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan sumber daya, perbedaan kepentingan antaraktor, dan belum optimalnya keterlibatan generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tata kelola kolaboratif memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan revitalisasi kampung adat dan dapat menjadi model pembangunan berbasis budaya yang berkelanjutan. ABSTRACT This study aims to analyze the collaborative revitalization of Beo Ruteng Pu’u Traditional Village as a culture-based development model in Manggarai Regency. The revitalization was carried out to address low tourist visitation, limited cultural tourism facilities, declining youth participation in traditional activities, and the challenges of modernization that may affect the sustainability of local culture. This research employed a qualitative approach using a case study method and was analyzed through Ansell and Gash’s (2008) Collaborative Governance Theory. Data were collected through interviews, observations, documentation, and literature review. The findings show that the revitalization process was implemented through collaboration among the local government, traditional institutions, tourism communities, and local residents. This collaboration contributed to cultural preservation, improvement of traditional village management, increased community participation, and the development of culture-based tourism. However, several challenges remain, including limited resources, differences in stakeholder interests, and the low involvement of younger generations. The study concludes that collaborative governance plays an important role in supporting the successful revitalization of traditional villages and can serve as a sustainable model for culturebased development.