Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kewenangan dan Tanggung Jawab Notaris dalam Pembuatan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Menurut Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) dan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT): The Authority and Responsibility of Notaries in Drafting Deeds of Establishment of Limited Liability Companies under the Notary Office Act (UUJN) and the Limited Liability Company Act (UUPT) Sofya Mahira; Arif Rahman; Fatahillah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11840

Abstract

Proses pendirian Perseroan Terbatas memerlukan peran Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik. Dalam praktiknya, masih ditemukan permasalahan akibat pelanggaran prosedur jabatan maupun pemberian keterangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya oleh para penghadap sehingga menimbulkan sengketa hukum yang melibatkan Notaris. Penelitian ini bertujuan menganalisis kewenangan dan tanggung jawab Notaris dalam pembuatan akta pendirian Perseroan Terbatas berdasarkan Undang-Undang Jabatan Notaris dan Undang-Undang Perseroan Terbatas, serta mengkaji bentuk pertanggungjawaban dan akibat hukum apabila akta yang dibuat mengandung cacat hukum. Penelitian ini menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan Notaris dan anggota Majelis Pengawas Daerah Kota Medan, sedangkan data sekunder berasal dari peraturan perundang-undangan dan literatur hukum. Seluruh data dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi kesenjangan antara ketentuan normatif dan praktik kenotariatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan Notaris dalam pendirian Perseroan Terbatas berlandaskan Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris dan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Notaris juga berperan memberikan penyuluhan hukum guna mencegah sengketa. Apabila terjadi pelanggaran, Notaris dapat dimintai pertanggungjawaban administratif, perdata, maupun pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Cacat hukum pada akta dapat mengakibatkan akta autentik kehilangan kekuatan pembuktian sempurna dan hanya bernilai sebagai akta di bawah tangan. Oleh karena itu, Notaris perlu meningkatkan ketelitian dalam verifikasi dokumen dan pelaksanaan prosedur jabatan. Di sisi lain, pengawasan oleh Majelis Pengawas Daerah perlu diperkuat, serta masyarakat harus bertanggung jawab atas kebenaran data yang diberikan agar tercipta kepastian hukum dalam pendirian Perseroan Terbatas. ABSTRACT The establishment of a Limited Liability Company (Perseroan Terbatas) requires the role of a Notary as a public official authorized to prepare authentic deeds. In practice, legal issues continue to arise due to non-compliance with statutory procedures or the submission of inaccurate information by the appearing parties, thereby involving Notaries in legal disputes. This study aims to analyze the authority and responsibilities of Notaries in preparing deeds of establishment for Limited Liability Companies under the Law on Notarial Office and the Company Law, as well as to examine the forms of legal liability and legal consequences arising from defects in such deeds. This research employs an empirical legal method with a qualitative approach. Primary data were obtained through interviews with Notaries and members of the Regional Supervisory Council (Majelis Pengawas Daerah) in Medan City, while secondary data were collected from statutory regulations and relevant legal literature. The data were analyzed descriptively to identify the gap between normative legal provisions and notarial practice. The findings indicate that the authority of a Notary in establishing a Limited Liability Company is based on Article 15 paragraph (1) of Law Number 2 of 2014 concerning the Notarial Office and Article 7 paragraph (1) of Law Number 40 of 2007 concerning Limited Liability Companies. In practice, Notaries also provide legal counseling to prevent potential disputes. Where violations occur, Notaries may incur administrative, civil, or criminal liability in accordance with the applicable laws and regulations. A legally defective deed may lose its status as an authentic deed and be reduced to the evidentiary value of a private deed, thereby diminishing its legal certainty. Therefore, Notaries are expected to exercise greater diligence in verifying documents and complying with statutory procedures. Furthermore, the supervisory function of the Regional Supervisory Council should be strengthened, while the public should ensure the accuracy of the information provided to Notaries in order to uphold legal certainty in the establishment of Limited Liability Companies.
Pertimbangan Hakim dalam Pemberian Hak Restitusi terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (Suatu Kajian Komparatif terhadap Putusan Pengadilan): Judicial Considerations in Granting the Right to Restitution for Victims of the Crime of Human Trafficking: A Comparative Study of Court Decisions Nida Nailah; Zul Akli; Arif Rahman
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11871

Abstract

Setiap korban tindak pidana berat seperti pelanggaran hak asasi manusia, perdagangan orang, dan terorisme wajib mendapatkan kompensasi atau dapat mengajukan restitusi melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Pemenuhan hak restitusi merupakan instrumen penting penerapan prinsip keadilan dan perlindungan bagi korban, namun dalam praktiknya permohonan restitusi tidak selalu dikabulkan dalam pertimbangan dan amar putusan hakim sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan hak restitusi, pertimbangan hakim dalam menolak restitusi, serta penerapan prinsip keadilan dan perlindungan hukum bagi korban tindak pidana perdagangan orang. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, serta analisis kualitatif terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengabulkan restitusi hakim tidak semata-mata mempertimbangkan alat bukti, sedangkan pada putusan yang menolak restitusi hakim cenderung berfokus pada penghukuman pelaku sehingga menimbulkan ketidakseimbangan antara dampak yang dialami korban dan konstruksi pertanggungjawaban dalam putusan. Disarankan agar hakim tidak hanya mempertimbangkan alat bukti, tetapi juga aspek viktimologi dan keadilan restoratif agar korban memperoleh pemulihan atas kerugian yang dialami. ABSTRACT Every victim of a serious crime such as human rights violations, human trafficking, and terrorism is entitled to compensation or may file a claim for restitution through the Witness and Victim Protection Agency. The fulfillment of restitution rights is a crucial instrument in applying the principles of justice and victim protection; however, in practice, restitution claims are not always granted in the judge's reasoning and ruling, creating legal uncertainty. This study aims to analyze the enforcement of restitution rights, judicial considerations in denying restitution, and the application of the principles of justice and legal protection for victims of human trafficking. The method used is normative legal research employing statutory and case approaches, with qualitative analysis of primary, secondary, and tertiary legal sources through a literature review. The results show that in granting restitution judges do not rely solely on evidence, whereas in rulings that deny restitution judges tend to focus on punishing the perpetrator, creating an imbalance between the harm suffered by the victim and the framework of liability in the decision. It is recommended that judges consider not only the evidence but also victimology and restorative justice so that victims may obtain redress for their losses.