Fitri Ciptosari
Manajemen Pemasaran Internasional, Politeknik ELBajo Commodus, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Media Sosial dalam Mendorong Perilaku Prososial Generasi Z: Studi Deskriptif pada Pengguna Media Sosial Labuan Bajo Teddy Halim; Fitri Ciptosari
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i5.18806

Abstract

Studi ini mendeskripsikan pola penggunaan media sosial dan aktivitas prososial digital yang dilaporkan oleh pengguna media sosial dari Generasi Z di Labuan Bajo. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif cross-sectional dengan 80 responden yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang mencakup pertanyaan mengenai penggunaan media sosial, delapan pernyataan berskala Likert lima poin, dan pertanyaan terbuka. Studi ini mengkaji pola penggunaan media sosial, nilai-nilai prososial pribadi, kesadaran sosial digital, aktivitas prososial digital yang dilaporkan, serta bentuk-bentuk interaksi sosial. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial merupakan bagian rutin dari kehidupan sehari-hari responden, dengan 41% melaporkan durasi penggunaan 3–4 jam per hari. WhatsApp, Instagram, dan TikTok adalah platform yang paling sering dilaporkan. Tanggapan terhadap pernyataan berskala Likert menunjukkan tingkat persetujuan yang relatif tinggi terhadap nilai-nilai prososial pribadi dan kesadaran sosial digital, khususnya terkait pentingnya berbagi informasi yang bermanfaat dan memandang media sosial sebagai sarana untuk mendukung perubahan sosial. Sebaliknya, partisipasi dalam kampanye sosial daring yang formal, seperti penggalangan dana dan petisi, dilaporkan lebih jarang dilakukan. Tanggapan terbuka lebih lanjut menunjukkan bahwa aktivitas prososial terutama diwujudkan melalui interaksi digital sehari-hari, termasuk berbagi informasi yang bermanfaat, mendukung teman dan bisnis lokal, menyebarluaskan informasi lowongan kerja dan informasi sosial, membagikan ulang (repost) konten penting, serta memberikan semangat atau dukungan emosional melalui komentar dan pesan langsung (direct messages). Responden juga menyebutkan konten sosial dan lingkungan—termasuk informasi mengenai bencana, donor darah, dan isu-isu komunitas lokal—sebagai konteks yang dapat memicu kepedulian dan mendorong mereka untuk mempertimbangkan membantu orang lain. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan gambaran kontekstual mengenai bagaimana responden Generasi Z di Labuan Bajo terlibat dalam aktivitas prososial dan interaksi sosial sehari-hari melalui media sosial, di mana partisipasi lebih sering diwujudkan melalui tindakan yang berbiaya rendah, bersifat interpersonal, dan berorientasi pada komunitas dibandingkan melalui aktivisme digital formal. Mengingat penggunaan desain deskriptif cross-sectional, teknik convenience sampling, data yang dilaporkan sendiri (self-reported), serta indikator yang belum divalidasi, temuan ini sebaiknya ditafsirkan sebagai gambaran mengenai responden yang berpartisipasi dan tidak untuk digeneralisasikan pada populasi Generasi Z yang lebih luas ataupun ditafsirkan sebagai bukti adanya hubungan sebab-akibat antara media sosial dan perilaku prososial.