Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan gangguan urologi yang sering terjadi pada pria usia lanjut dan dapat menimbulkan gejala Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) seperti sering buang air kecil, nokturia, pancaran urin melemah, dan rasa tidak lampias setelah berkemih. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap gejala awal gangguan prostat dapat menyebabkan keterlambatan deteksi dini dan penanganan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, kesadaran deteksi dini, serta respons pria pra-lansia terhadap gejala gangguan prostat dan LUTS. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan promotif dan preventif dalam bidang kesehatan masyarakat. Penelitian dilaksanakan di Kota dan Kabupaten Serang, Provinsi Banten, dengan melibatkan 10 pria pra-lansia usia 45–59 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur mengenai pengetahuan prostat, gejala LUTS, kesadaran pemeriksaan dini, dan respons terhadap gangguan berkemih. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan telah mengetahui istilah pembesaran prostat, namun pemahaman mengenai fungsi prostat dan gejala LUTS masih belum optimal. Gejala yang paling banyak dialami informan meliputi nokturia, pancaran urin melemah, dan rasa tidak lampias setelah berkemih. Kesadaran terhadap deteksi dini masih rendah karena sebagian informan menganggap gangguan berkemih sebagai bagian normal dari proses penuaan. Respons informan terhadap gejala gangguan berkemih cukup beragam, mulai dari konsultasi medis hingga pengobatan mandiri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi kesehatan prostat berbasis promotif dan preventif perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kesadaran deteksi dini gangguan prostat pada pria pra-lansia