Achmad R. Muttaqien Al-Maidin
Departemen Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, Universitas Mega Buana Palopo, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Kualitatif Penerapan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Puskesmas Eka Dharmawati Lewa; Andi Alim; Achmad R. Muttaqien Al-Maidin
Nursing Care and Health Technology Journal (NCHAT) Vol. 6 No. 1 (2026): Nursing and Health Care Technology-January to June Period
Publisher : Progres Ilmiah Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/nchat.v6i1.226

Abstract

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) merupakan instrumen penting dalam mendukung pencatatan, pelaporan, dan pengelolaan data pasien. Namun, implementasi SIMPUS di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Luwu Timur, masih menghadapi sejumlah kendala yang berpotensi mengurangi manfaatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan SIMPUS dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Lakawali Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri dari kepala puskesmas, koordinator SIMPUS, operator rekam medis elektronik, kepala unit pelayanan, penanggung jawab program, petugas teknis, serta perwakilan pasien. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIMPUS telah menjadi bagian integral dalam pengelolaan pelayanan di Puskesmas Lakawali, mencakup pendaftaran, pelayanan poli, laboratorium, farmasi, hingga pelaporan program. Faktor pendukung implementasi meliputi komitmen pimpinan, dukungan dinas kesehatan, serta kesadaran tenaga kesehatan akan pentingnya digitalisasi. Kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan infrastruktur, jaringan internet yang belum stabil, beban kerja tinggi, serta resistensi sebagian petugas. Strategi optimalisasi dilakukan melalui pelatihan internal, supervisi rutin, penambahan perangkat, dan penguatan koordinasi antarunit. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa implementasi SIMPUS di Puskesmas Lakawali telah membawa manfaat dalam peningkatan efisiensi pencatatan dan koordinasi pelayanan, meskipun masih terdapat hambatan teknis dan sumber daya.
Faktor - Faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Petugas Kesehatan Dalam Menggunakan Alat Pelindung Diri Deslince Solombuku; Andi Alim; Achmad R. Muttaqien Al-Maidin
Nursing Care and Health Technology Journal (NCHAT) Vol. 6 No. 1 (2026): Nursing and Health Care Technology-January to June Period
Publisher : Progres Ilmiah Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/nchat.v6i1.227

Abstract

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan komponen penting dalam upaya pencegahan infeksi dan keselamatan kerja tenaga kesehatan. Meskipun regulasi sudah ditetapkan, tingkat kepatuhan petugas kesehatan dalam menggunakan APD di fasilitas kesehatan primer, termasuk puskesmas pedesaan, masih bervariasi dan belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan petugas kesehatan dalam penggunaan APD di Puskesmas Balantak Selatan, Kabupaten Banggai. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional dengan populasi seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Balantak Selatan sebanyak 42 orang yang diambil dengan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik dengan batas kemaknaan p<0.05. Mayoritas responden berpengetahuan tinggi (73.8%), bersikap positif (52.4%), dan menilai lingkungan kerja cukup kondusif (64.3%). Tingkat kepatuhan menunjukkan 45.2% patuh, 19.0% sangat patuh, dan 35.7% kurang patuh. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0.003), sikap (p=0.002), lingkungan kerja (p=0.001), pelatihan (p=0.001), kebijakan (p=0.000), dukungan manajemen (p=0.000), dan ketersediaan APD (p=0.000) dengan kepatuhan penggunaan APD. Sebaliknya, budaya kerja tidak berhubungan signifikan (p=0.200). Kepatuhan penggunaan APD dipengaruhi oleh faktor individual dan struktural, terutama pengetahuan, sikap, pelatihan, dukungan manajemen, kebijakan, lingkungan kerja, dan ketersediaan APD.