Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK PASIEN TINDAKAN OPERASI DI RUMAH SAKIT MULIA RAYA: STUDI DESKRIPTIF RETROSPEKTIF Rijal Khairul; Wafiq Akmal
Jurnal Kesehatan Akimal Vol 5 No 1 (2026): EDISI APRIL 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58435/jka.v5i1.260

Abstract

Latar Belakang:Karakteristik pasien operasi penting untuk evaluasi pelayanan bedah dan anestesi serta menjadi dasar perencanaan sumber daya dan peningkatan mutu pelayanan perioperatif. Karakteristik pasien operasi di Rumah Sakit Mulia Raya belum pernah dilaporkan secara ilmiah. Tujuan:Mendeskripsikan karakteristik pasien yang menjalani tindakan operasi di Rumah Sakit Mulia Raya selama Juli 2026. Metode:Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis dan register kamar operasi. Sampel ditentukan dengan total sampling terhadap seluruh pasien yang menjalani operasi selama Juli 2026 dan memenuhi kriteria inklusi. Variabel meliputi usia, jenis kelamin, bidang bedah, status operasi, klasifikasi status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA), jenis anestesi, ruang pemulihan pascaoperasi, dan jenis operasi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, rerata, simpangan baku, median, dan rentang. Hasil:Sebanyak 24 pasien memenuhi kriteria penelitian. Rerata usia 39,4 ± 14,0 tahun dan 66,7% berjenis kelamin perempuan. Bidang bedah terbanyak adalah Obstetri dan Ginekologi (37,5%), dengan Sectio Caesarea sebagai jenis operasi terbanyak (33,3%). Sebagian besar pasien menjalani operasi elektif (95,8%), berstatus ASA I (95,8%), dan mendapatkan anestesi spinal (79,2%). Seluruh pasien menjalani observasi di Recovery Room sebelum dipindahkan ke ruang perawatan. Kesimpulan: Pasien operasi di Rumah Sakit Mulia Raya selama Juli 2026 didominasi perempuan usia dewasa, dengan pelayanan terbanyak dari bidang Obstetri dan Ginekologi. Mayoritas menjalani operasi elektif, berstatus ASA I, dan mendapatkan anestesi spinal. Temuan ini dapat menjadi data dasar untuk evaluasi dan pengembangan pelayanan bedah, anestesi, dan perioperatif.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN SELF-MANAGEMENT HIPERTENSI PADA LANSIA: STUDI CROSS-SECTIONAL DI ACEH UTARA Furqan Hidayatullah; Wafiq Akmal
Jurnal Kesehatan Akimal Vol 5 No 1 (2026): EDISI APRIL 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58435/jka.v5i1.261

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan kronis yang memerlukan keterlibatan aktif pasien dalam pengelolaannya melalui self-management. Karakteristik demografi, seperti umur, jenis kelamin, dan pekerjaan, diduga berkaitan dengan kemampuan individu dalam menjalankan pengobatan dan mempertahankan perilaku hidup sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan karakteristik demografi dengan self-management hipertensi pada lansia di Desa U Baroh, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 229 penderita hipertensi, dengan sampel 70 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden terbanyak berada pada kelompok umur 45–59 tahun, yaitu 41 responden (58,6%), dengan 32 responden (78,0%) memiliki self-management baik. Terdapat hubungan signifikan antara umur dengan self-management hipertensi (p=0,027). Proporsi self-management baik pada laki-laki sebesar 83,3% dan perempuan 52,9%, dengan hubungan signifikan antara jenis kelamin dan self-management (p=0,006). Responden yang tidak bekerja memiliki proporsi self-management baik tertinggi, yaitu 26 responden (83,9%), sedangkan self-management kurang paling banyak pada karyawan swasta (60,0%); pekerjaan berhubungan signifikan dengan self-management (p=0,041). Disimpulkan bahwa umur, jenis kelamin, dan pekerjaan berhubungan dengan self-management hipertensi. Edukasi dan pendampingan perlu mempertimbangkan karakteristik demografi agar sesuai dengan kebutuhan individu. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pengelolaan hipertensi yang berorientasi pada karakteristik individu. Penyesuaian edukasi, pendampingan keluarga, dan pemantauan perilaku kesehatan berdasarkan karakteristik demografi dapat mendukung penerapan self-management secara berkelanjutan dan optimal pada penderita hipertensi di masyarakat. Penelitian lanjutan perlu mengkaji faktor lain yang berhubungan dengan self-management.