Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan literasi matematika siswa yang berakar pada miskonsepsi persisten, khususnya pada materi eksponen yang merupakan konsep prasyarat bagi matematika lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk miskonsepsi konseptual dan prosedural yang dialami siswa kelas XI di SMAN 2 Selayar beserta faktor penyebabnya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 97 siswa dengan 4 subjek yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan tingkat keparahan miskonsepsi. Data dikumpulkan melalui tes diagnostik berbentuk esai dan wawancara klinis berbasis tugas (task-based interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek konseptual, siswa mengalami miskonsepsi notasi (mengartikan pangkat nol sebagai nilai basis dan gagal memaknai invers perkalian pada pangkat negatif), namun tidak mengalami miskonsepsi bahasa. Pada aspek prosedural, siswa mengalami spesialisasi berlebihan dengan mencampuradukkan sifat perkalian dan perpangkatan, serta generalisasi berlebihan dengan mendistribusikan pangkat ke dalam operasi penjumlahan polinomial secara ilegal. Miskonsepsi ini disebabkan oleh dominasi pemahaman instrumental, keterbatasan abstraksi aljabar yang memicu asosiasi keliru, serta kuatnya intervensi aturan aritmetika dasar. Kesimpulannya, miskonsepsi eksponen bersifat persisten jika tidak ditangani. Oleh karena itu, penggunaan strategi konflik kognitif berbasis substitusi numerik sangat direkomendasikan untuk membongkar pemahaman instrumental siswa menuju pemahaman relasional secara efektif.