Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI KOMPARATIF XGBOOST DAN MLP BERDASARKAN EVALUASI FITUR PADA KLASIFIKASI ANGKA BAHASA ISYARAT SIBI Benedict Michael Pepper; Gilbetch Ronaldo Triswanto
Prosiding Seminar Nasional Universitas Ma Chung (Informatika & Sistem Informasi Bahasa dan Seni
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pengenalan bahasa isyarat berbasis sarung tangan sensor dikembangkan sebagai alat bantu komunikasi bagi komunitas tunarungu. Meskipun demikian, penentuan kombinasi fitur pada sistem tersebut sering kali dilakukan secara intuitif tanpa validasi empiris. Penelitian ini mengevaluasi validitas pemilihan fitur menggunakan algoritma ExtraTreesClassifier pada dataset angka Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang terdiri dari 20 kelas gestur. Hasil analisis menunjukkan bahwa saluran magnetometer, yang dikecualikan dalam penelitian acuan sebelumnya, merupakan fitur paling informatif. Sebaliknya, saluran akselerometer yang dipertahankan dalam studi acuan tersebut berada di peringkat terbawah kepentingan fitur. Selanjutnya, dua model klasifikasi, yaitu Extreme Gradient Boosting (XGBoost) dan Multilayer Perceptron (MLP) berbasis PyTorch, dioptimalkan menggunakan pencarian hiperparameter Bayesian melalui Optuna dengan 100 percobaan per konfigurasi pada dua himpunan fitur berbeda. Menggunakan seluruh 16 fitur, XGBoost mencapai akurasi uji sebesar 99,83% dan MLP mencapai 99,08%. Kedua hasil tersebut melampaui baseline k-Nearest Neighbors (kNN) yang mencatat akurasi 98,90%. Ambiguitas klasifikasi pada Kelas 16 dan 17, yang menjadi kelemahan utama kNN akibat kemiripan karakteristik data, dapat diselesaikan. Nilai F1-score kedua kelas tersebut meningkat masing-masing dari 0,97 dan 0,95 menjadi 0,9972 dan 0,9978. Temuan ini menunjukkan bahwa metode ansambel pohon keputusan mengungguli kNN dan MLP pada data sensor tabular. Hasil eksperimen ini juga menunjukkan bahwa tahapan evaluasi kepentingan fitur secara objektif merupakan fondasi penting dalam perancangan sistem klasifikasi gestur.
Pengaruh Progressive Resizing pada EfficientNetB4 untuk Klasifikasi Pneumonia Bakterial dan Viral Benedict Michael Pepper; Elroi Yonatan Raharjo; Windra Swastika
Prosiding Seminar Nasional Universitas Ma Chung (Informatika & Sistem Informasi Bahasa dan Seni
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia merupakan penyebab utama kematian akibat infeksi pada anak di bawah usia lima tahun, menyumbang sekitar 14% dari seluruh kematian anak menurut WHO. Diferensiasi antara pneumonia bakterial dan viral berdasarkan citra X-ray dada merupakan tantangan klinis yang signifikan karena keduanya menunjukkan pola radiologis yang tumpang tindih, namun memerlukan penanganan terapeutik yang berbeda, yaitu antibiotik untuk bakteri dan penanganan suportif untuk virus. Penelitian ini membandingkan dua strategi pelatihan berbasis transfer learning pada arsitektur EfficientNetB4 untuk klasifikasi biner pneumonia bakterial versus viral: (1) strategi Fixed Size yang melatih model langsung pada resolusi 384x384 piksel selama 32 epoch, dan (2) strategi Progressive Resizing yang melatih melalui tiga tahap resolusi meningkat (224, 256, dan 384 piksel) selama total 41 epoch. Kedua model menggunakan arsitektur identik berupa Concat Pooling head (GlobalAveragePooling2D + GlobalMaxPooling2D), Focal Loss, augmentasi Albumentations dengan MixUp, serta optimizer AdamW. Menggunakan dataset Kermany et al. dengan 3.883 citra pelatihan-validasi dan set uji terpisah sebesar 390 citra (242 bakterial, 148 viral), dengan evaluasi menggunakan Test-Time Augmentation (TTA) 2-langkah deterministik, model Fixed Size mencapai akurasi 86,92% dan ROC AUC 0,9198, mengungguli model Progressive Resizing yang mencapai akurasi 78,46% dan ROC AUC 0,8011. Visualisasi Grad-CAM mengonfirmasi bahwa Model Fixed Size menghasilkan peta aktivasi yang lebih terlokalisasi secara spasial pada parenkima paru yang patologis. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan langsung pada resolusi target lebih efektif untuk tugas klasifikasi citra medis yang bergantung pada fitur resolusi tinggi.