Muhammad Raffi Ristansyah Putra
Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MILD ASCITES IN TOTAL OBSTRUCTIVE ILEUS : A NON-HEPATIC MANIFESTATION OF ACUTE THIRD SPACING Herjunanto Nur Priyadi; Maulfi Natsir Asy'ari; Nabilah Zannuba; Muhammad Raffi Ristansyah Putra; Muhammad Kemal Atthariq; Yanuar Yudha Sudrajat
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.61203

Abstract

Ileus obstruktif total merupakan kegawatdaruratan bedah abdomen dengan risiko tinggi terjadinya iskemia dan nekrosis usus. Munculnya cairan intraperitoneal (asites) pada kondisi akut ini sering disalahartikan sebagai gangguan hepar, padahal cairan tersebut sebenarnya menjadi penanda klinis penting dari fenomena third spacing akibat gangguan vaskular. Laporan kasus ini menguraikan seorang perempuan berusia 49 tahun yang datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri perut difus progresif selama tiga hari, obstipasi, dan tidak dapat buang angin. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi abdomen masif disertai penurunan bising usus, dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis tanpa gangguan fungsi ginjal maupun hepar. Radiografi abdomen menegaskan adanya dilatasi lengkung usus dengan multipel air-fluid level tanpa tanda perforasi, sementara ultrasonografi mendeteksi asites ringan. Pasien awalnya ditangani dengan resusitasi suportif, namun observasi klinis menunjukkan perburukan nyeri dan distensi. Karena asites reaktif dikenali sebagai tanda bahaya risiko strangulasi usus, pasien segera dirujuk untuk penanganan bedah digestif definitif. Kasus ini menunjukkan bahwa asites ringan pada ileus obstruktif total bukan merupakan temuan insidental maupun komorbiditas hepar, melainkan tanda peringatan dini dari third spacing dan iskemia akibat peningkatan tekanan intraluminal. Pengenalan dini terhadap cairan reaktif ini penting untuk menghindari manajemen konservatif yang berkepanjangan dan mempercepat rujukan bedah, terutama pada fasilitas dengan keterbatasan sarana pencitraan lanjutan.