Penyakit demam tifoid tergolong sebagai infeksi sistemik akut yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan endemik di Indonesia akibat pola penularan berbasis fekal-oral. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai faktor risiko, meliputi perilaku personal hygiene, kondisi sanitasi dasar rumah, dan status gizi dengan kejadian penyakit demam tifoid pada pasien pasca-rawat inap. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan matched case-control (1:1) berbasis klaster keluarga. Subjek penelitian berjumlah 24 responden, yang terdiri dari 12 responden kelompok kasus (pasien yang terdiagnosis demam tifoid) dan 12 responden kelompok kontrol (anggota keluarga sehat yang tinggal satu rumah dengan pasien kasus) di Rumah Sakit Murni Teguh Ciledug pada periode Januari-Maret 2026. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan rekam medis, kemudian dianalisis secara bivariat menggunakan Fisher's Exact Test (α=0,05). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi IMT dengan kejadian demam tifoid (p=0,003). Variabel personal hygiene juga menunjukkan hubungan yang sangat signifikan, meliputi perilaku mencuci tangan sebelum makan (p < 0,001) dan odds ratio (OR=121,000), mencuci tangan setelah BAB (p < 0,001) dan odds ratio (OR=121,000), kebiasaan jajan (p < 0,001) dan odds ratio (OR=121,000), mencuci bahan makanan mentah (p=0,037) serta riwayat kontak langsung (p < 0,001). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan pada seluruh komponen fisik sanitasi dasar rumah tangga (p=1,000) dan odds ratio (OR=1,000). Kesimpulan secara keseluruhan menunjukkan bahwa kejadian demam tifoid pada pasien di RS Murni Teguh Ciledug secara signifikan didorong oleh faktor kerentanan individu pejamu, yang mencakup status gizi kurang serta rendahnya praktik personal hygiene, sementara faktor kondisi fisik sanitasi lingkungan tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna secara statistik.