Kewirausahaan yang bertumpu pada potensi lokal merupakan salah satu pendekatan penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Namun, studi yang mengkaji keterhubungan antara lokasi usaha berbasis tempat, dukungan pemerintah daerah, sumber daya budaya lokal, dan inovasi lingkungan pada usaha mikro masih terbatas. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana dimensi-dimensi tersebut dimobilisasi oleh Batik Tulis Al Huda, sebuah usaha batik tulis di Sidoarjo, Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan General Manager sebagai informan kunci dan didukung oleh telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi usaha berfungsi sebagai aset berbasis tempat yang terkait dengan identitas sentra batik Jetis dan pengembangan galeri di Sidokare. Dukungan pemerintah daerah berkontribusi terhadap promosi, peluang permodalan, dan legitimasi kelembagaan, meskipun penguatan sisi permintaan masih terbatas. Narasi sejarah dalam motif batik mendukung diferensiasi produk melalui keterhubungan identitas lokal, keterampilan perajin, dan makna budaya. Kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga membuka akses pengetahuan dan pendampingan teknis pengelolaan limbah pewarna. Studi ini mengusulkan konsep heritage-embedded competitive advantage dan micro-scale entrepreneurial ecosystem untuk menjelaskan mobilisasi sumber daya lokal pada UMKM budaya.