Geometri permukaan merupakan masukan orde pertama (first-order input) dalam analisis stabilitas lereng, tetapi pemodelan Digital Terrain Model (DTM) berbasis fotogrametri Unmanned Aerial Vehicle (UAV) pada lereng bervegetasi dipengaruhi oleh ketinggian terbang (flight height) dan efektivitas ekstraksi permukaan tanah. Penelitian ini mengevaluasi akurasi geometri dan perambatan galat terhadap nilai Faktor Keamanan (Safety Factor/SF) dari tiga variasi planned flight height UAV (50 m, 60 m, dan 70 m) terhadap acuan terestris Total Station (TS) di lereng eksisting bervegetasi koridor Jalan Ilik-Ilik, Kabupaten Blitar, Indonesia. Jaringan kontrol geospasial dibangun menggunakan 10 Ground Control Points (GCP) dan 4 Independent Check Points (ICP). Evaluasi geometri dilakukan pada 17 irisan penampang melintang (cross-sections, C0–C80) berjarak 5 m melalui vertical root-mean-square error (RMSEz), deviasi sudut kemiringan lereng (β), serta pemodelan stabilitas 2D Limit Equilibrium Method (LEM) dan diagnostik 3D LEM.Hasil evaluasi menunjukkan nilai rerata RMSEz sebesar 0,510 m (50 m), 0,364 m (60 m), dan 0,360 m (70 m). Rerata sudut kemiringan lereng acuan TS adalah 14,046°, sedangkan model UAV menghasilkan 13,944° (50 m), 14,023° (60 m), dan 14,064° (70 m). Uji paired t-test menunjukkan DTM 50 m memiliki bias kemiringan sistematis sebesar 0,102° yang signifikan secara statistik (p = 0,0001; dz = 1,24), sementara variasi 60 m (p = 0,1343) dan 70 m (p = 0,3500) tidak berbeda signifikan dari TS. Pada analisis stabilitas 2D LEM, seluruh DTM UAV maupun TS mengonfirmasi kondisi lereng aman (SF > 1,30). Meskipun SF hasil UAV berbeda signifikan secara berpasangan terhadap TS (p < 0,05) dan cenderung kurang konservatif (lebih tinggi 12%–15%), uji One-Way ANOVA antar-ketinggian terbang UAV menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (F = 0,028; p = 0,972), yang diperkuat oleh uji post-hoc Tukey HSD. Hasil ini menegaskan pemisahan penting antara signifikansi statistik dan signifikansi praktis rekayasa: DTM UAV menunjukkan deviasi dari TS, namun variasi tinggi terbang 50–70 m ekuivalen secara praktis dan sangat andal untuk pemindaian awal (slope-stability screening). Ketinggian terbang 70 m direkomendasikan sebagai konfigurasi optimum karena menghasilkan RMSEz terendah dan efisiensi akuisisi data tertinggi (191 citra).