Pada remaja wanita, gangguan menstruasi yang sering terjadi adalah dismenore. Dismenore sering disebut sebagai “painful period”. Nyeri sering terjadi pada daerah panggul, punggung bagian bawah, pinggang, paha atas, hingga betis. Kejadian dismenorea di dunia cukup tinggi. Angka kejadian dismenore di Indonesia terdiri atas dismenore primer 54,89% dan dismenore sekunder 9,36%. Dampak yang terjadi jika dismenore tidak ditangani maka bisa menjadi kondisi yang patologis, termasuk kemandulan. Dismenore dapat ditangani melalui manajemen nyeri baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Remaja putri perlu mengetahui berbagai cara penanganan dismenore ini agar mampu melakukan penanganan tersebut secara mandiri di asrama atau di rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran tingkat terkait penanganan dismenore pada remaja putri di Pesantren Shine Alfalah Minangkabau. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif yang menggambarkan pengetahuan remaja putri terkait dengan penanganan dismenore. Populasi penelitian adalah remaja putri Pesantren Shine Alfalah yang sudah mengalami haid. dan sampel dipilih dengan menggunakan purposive samping berjumlah 30 orang. Penelitian dilakukan pada bulan Mei – November 2024 dan pengumpulan data dilakukan pada tanggal 26 – 28 Juli 2024. Data dianalisis secara univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden terdapat 76% responden dengan tingkat pengetahuan remaja putri di Pesantren Al Falah terkait dengan penanganan dismenore kategori cukup. Menarche yang dialami responden sebagian besar berada pada usia 14 tahun sebanyak 22 responden (73,3%). Sebagian besar responden memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (48,3%). Lama haid yang dialami oleh responden setiap siklusnya 3-7 hari berjumlah 20 responden (66,7%). Siklus haid yang dialami responden berada pada kategori siklus yang teratur sebanyak 18 responden (60%). Penggantian pembalut yang dilakukan responden pada saat haid mayoritas lebih dari 3 kali dalam sehari sebanyak 18 responden (60%). Mayoritas responden sebanyak 24 responden (80,%) tidak memiliki riwayat dismenorea dalam keluarganya.Kata Kunci: Remaja, Pengetahuan, Penanganan, Dismenore