Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Determinan Perilaku Disfungsional Auditor dengan Turnover Intention sebagai Variabel Mediasi Rahadian Wibisana; Siti Hartinah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12752

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tekanan waktu, stres kerja, dan budaya organisasi terhadap perilaku disfungsional auditor, dengan turnover intention sebagai variabel mediasi. Perilaku disfungsional auditor merupakan fenomena yang mengkhawatirkan dalam profesi audit karena dapat menurunkan kualitas audit dan mengancam independensi auditor. Fenomena ini sering dipicu oleh tuntutan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kerja yang kurang mendukung. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara langsung kepada 80 orang auditor yang bekerja pada sembilan Kantor Akuntan Publik (KAP) di wilayah Jakarta Selatan. Teknik analisis data yang digunakan adalah Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS versi 4.0. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa tekanan waktu berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku disfungsional auditor dengan koefisien jalur sebesar 0,321 dan nilai p < 0,001. Demikian pula, stres kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku disfungsional dengan koefisien 0,311 dan nilai p = 0,001. Berbeda dengan kedua variabel tersebut, budaya organisasi ditemukan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku disfungsional auditor (p = 0,089). Sementara itu, turnover intention juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku disfungsional dengan koefisien 0,267 dan nilai p = 0,007. Dalam pengujian peran mediasi, ditemukan bahwa turnover intention hanya mampu memediasi pengaruh stres kerja terhadap perilaku disfungsional, namun gagal memediasi pengaruh tekanan waktu dan budaya organisasi. Secara keseluruhan, model penelitian ini mampu menjelaskan 43,8% variasi dalam perilaku disfungsional auditor. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi manajemen KAP untuk menyusun anggaran waktu yang lebih realistis, menerapkan program manajemen stres yang terstruktur, serta merancang kebijakan retensi auditor yang efektif guna menekan perilaku disfungsional di lingkungan kerja. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan responden dan mempertimbangkan variabel pemoderasi lainnya.