Penelitian ini menganalisis pemanfaatan media massa sebagai alat propaganda dalam konflik antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 1965, khususnya terkait kampanye pembubaran HMI di akhir masa Orde Lama. Menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini mengkaji 13 artikel surat kabar dari 6 penerbit berbeda, terutama Harian Rakjat sebagai corong resmi PKI, serta dokumen-dokumen sezaman seperti pidato Soekarno, AD/ART HMI, dan Keputusan Presiden. Dengan kerangka teori propaganda Harold Lasswell, penelitian ini menemukan bahwa PKI secara sistematis melakukan manajemen simbol melalui pelabelan negatif terhadap HMI sebagai "onderbouw Masyumi", "kontra-revolusioner", "teroris", dan "setan perguruan tinggi" untuk menciptakan justifikasi publik bagi tuntutan pembubaran. Propaganda ini disebarluaskan secara masif melalui media massa afiliasi PKI untuk menstandarisasi opini publik dan memobilisasi reaksi massa yang direkayasa. Namun, upaya propaganda ini gagal total setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) yang mengubah secara drastis peta kekuasaan politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa propaganda tanpa ditopang oleh dukungan kekuasaan yang kokoh dan kesesuaian dengan fakta sejarah akan menemui kegagalan ketika realitas itu sendiri bangkit melawan propaganda tersebut. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam kajian sejarah politik Indonesia dengan mengalihkan fokus analisis dari lobi elite politik ke pertarungan hegemoni wacana di ruang publik yang dimediasi oleh pers sezaman.