Sektor transportasi darat di Provinsi Sumatera Barat sangat rentan terhadap bencana tanah longsor akibat topografi perbukitan curam dan curah hujan ekstrem. Pendekatan mitigasi konvensional berbasis semen dan beton (grey infrastructure) terbukti membutuhkan biaya tinggi dan kurang adaptif terhadap pergeseran tanah jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi implementasi green infrastructure pada bidang transportasi di Sumatera Barat melalui pendekatan rekayasa hayati (bio-engineering) penahan longsor alami. Metode yang digunakan adalah studi literatur (literature review) dengan menganalisis dan menyintesis data sekunder dari artikel ilmiah, dokumen kebijakan, serta laporan teknis kebencanaan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi vegetasi lokal memiliki efektivitas tinggi dalam menjaga stabilitas lereng jalan. Rumput Vetiver (Chrysopogon zizanioides) efektif menahan erosi permukaan dan longsor dangkal melalui jaringan akar serabut padat berdaya tarik tinggi hingga kedalaman 5 meter. Sementara itu, bambu lokal dan pohon Suren (Toona sureni) berfungsi sebagai pasak hidup alami (living soil nails) untuk mengunci massa tanah lateral pada kaki lereng. Fase kritis awal pertumbuhan tanaman (6–18 bulan) dapat diatasi melalui metode hibrida menggunakan jaring sabut kelapa (cocomesh). Penelitian ini merekomendasikan pembentukan petunjuk teknis daerah yang mengintegrasikan aspek agronomi ke dalam perencanaan jalan hijau oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat demi mewujudkan konektivitas infrastruktur yang tangguh bencana dan berkelanjutan.