Frans Pekey
Dosen Program Studi Akuntansi, Universitas Katolik Fajar Timur Papua

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Money Laundering dalam Perspektif Teori Konsumsi dan Ekonomi Perilaku Maria Yuvita Gobay; Frans Pekey
Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 18 No 2 (2026): JEB Vol 18 No 2 Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55049/azm3mr45

Abstract

Pencucian uang umumnya dikaji dari perspektif hukum, kriminologi, tata kelola, dan regulasi keuangan. Berbagai perspektif dan pendekatan tersebut mampu menjelaskan mekanisme serta konsekuensi hukum dari proses pencucian aset hasil kejahatan, namun pendekatan-pendekatan tersebut masih memberikan pemahaman yang terbatas mengenai motif ekonomi yang mendasari keputusan individu yang telah memiliki kekayaan melimpah tetap berupaya mengakumulasi kekayaan melalui cara-cara ilegal. Artikel ini menawarkan perspektif konseptual yang memandang pencucian uang sebagai manifestasi dari perubahan perilaku konsumsi dalam masyarakat modern. Dengan menggunakan integrative literature review dan model konseptual, penelitian ini mensintesis berbagai teori konsumsi klasik maupun kontemporer, meliputi teori utilitas, hukum penurunan utilitas marjinal (law of diminishing marginal utility), hipotesis pendapatan absolut (absolute income hypothesis),hipotesis pendapatan relatif (relative income hypothesis),hipotesis pendapatan permanen (permanent income hypothesis),hipotesis siklus hidup (life cycle hypothesis), teori konsumsi mencolok (conspicuous consumption theory), distinction theory,ekonomi perilaku (behavioral economics), serta teori budaya konsumen (consumer culture theory). Hasil sintesis menunjukkan bahwa pencucian uang pada era modern semakin tidak didorong oleh upaya memenuhi kebutuhan dasar, melainkan oleh dorongan untuk memperoleh status sosial, prestise, pengakuan simbolik, dan pembentukan identitas sosial. Perbandingan sosial (social comparison), efek demonstrasi (demonstration effect), konsumsi barang mewah, serta budaya flexing di era digital memperkuat keinginan yang tidak terbatas (unlimited wants), yang pada akhirnya meningkatkan insentif untuk mengakumulasi kekayaan melalui aktivitas ilegal. Artikel ini mengembangkan suatu kerangka konseptual yang menjelaskan transformasi perilaku konsumsi dari orientasi pada pemenuhan kebutuhan (need oriented consumption) menuju orientasi pada status konsumsi (status oriented consumption) sebagai salah satu determinan ekonomi penting yang mendorong terjadinya pencucian uang. Kerangka konseptual yang diusulkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur dengan mengintegrasikan teori konsumsi ke dalam kajian kejahatan keuangan (financial crime studies), sekaligus menawarkan implikasi kebijakan yang menekankan bahwa upaya pencegahan pencucian uang tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga memerlukan intervensi pada aspek perilaku dan budaya konsumsi masyarakat.