Rosnita Rosnita
Riau University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Keberlanjutan Agroindustri Nanas di Desa Kualu Nenas Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Belinda Jessica Ades; Rosnita Rosnita; Meki Herlon
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.23994

Abstract

Produksi nanas yang tinggi di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar memberikan peluang besar bagi pengembangan agroindustri berbasis nanas, namun masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan bahan baku akibat alih fungsi lahan, fluktuasi harga, pemasaran terbatas, pengelolaan limbah yang belum optimal, rendahnya keterlibatan masyarakat, keterbatasan teknologi, dan dukungan kelembagaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil, analisis usaha, tingkat keberlanjutan, dan atribut sensitif agroindustri nanas. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel menggunakan sensus terhadap lima agroindustri keripik nanas. Analisis usaha menggunakan metode Hayami, sedangkan analisis keberlanjutan menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS) melalui RAP-Pineapple, dilengkapi analisis leverage dan Monte Carlo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agroindustri keripik nanas merupakan usaha mikro yang sudah berdiri lebih dari 10 tahun yang menggunakan nanas moris sebagai bahan baku yang diolah melalui tahapan pengupasan hingga pengemasan yang membutuhkan 12 kg nanas dan menghasilkan 1,9 kg keripik dalam sekali proses produksi, dengan frekuensi dua hingga empat kali produksi per hari. Pemasaran dilakukan melalui penjualan langsung kepada konsumen dan melalui toko oleh-oleh dengan rata-rata penggunaan tenaga kerja sebesar 1,3 HOK per proses produksi. Agroindustri ini menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp138.974,4/proses produksi dan nilai tambah sebesar Rp19.333/kg. Tingkat keberlanjutan dari lima dimensi tergolong cukup berkelanjutan (54,19). Atribut sensitif meliputi kestabilan harga, keterampilan SDM, pengelolaan air, kecacatan produk, dan partisipasi kelembagaan.