Muhammad Husaini
Universitas Lambung Mangkurat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kelembagaan Ekonomi Petani di Kabupaten Barito Kuala Noviannoor Firdaus; Luthfi Fatah; Muhammad Husaini
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.24592

Abstract

Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) merupakan instrumen strategis dalam pemberdayaan ekonomi petani melalui konsolidasi sumber daya secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, namun perkembangannya di Kabupaten Barito Kuala sebagai lumbung pangan utama Kalimantan Selatan masih jauh dari optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat perkembangan KEP dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilaksanakan pada November 2025 hingga Februari 2026 menggunakan metode survei terhadap 72 KEP yang terdiri dari 32 KEP berkembang dan 40 KEP tidak berkembang, dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling dari populasi 242 KEP. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan indeks komposit min-max normalization dan inferensia melalui regresi logistik biner pada enam variabel bebas. Hasil penelitian menunjukkan indeks kumulatif perkembangan KEP sebesar 0,47 yang masuk kategori kurang berkembang, dengan komponen perkembangan omzet mencapai indeks terendah sebesar 0,35. Empat faktor terbukti berpengaruh signifikan terhadap probabilitas perkembangan KEP, yaitu aktor penggerak aktif (OR=2,434), jaringan kerjasama bisnis (OR=2,864), kaderisasi pengelola (OR=1,785), dan inovasi berkelanjutan (OR=1,870); sedangkan dukungan otoritas dan pendampingan penyuluh tidak berpengaruh signifikan. Model menjelaskan 65,9 persen variabilitas perkembangan KEP dengan ketepatan klasifikasi 81,9 persen. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan teori kelembagaan ekonomi pedesaan dengan menegaskan bahwa transformasi KEP menuju korporasi petani lebih ditentukan oleh kekuatan internal kelembagaan dan jaringan bisnis dibandingkan intervensi eksternal yang bersifat parsial.