PLTU Batang yang berkapasitas 2x1000 MW dan mensupply interkoneksi jawa-bali, mengingat kapasitasnya yang besar dan juga kebutuhan daya yang dihasilkan membutuhkan Emergency Backup System yang andal untuk mengamankan peralatan kritis saat terjadi Unit Blackout maupun Plant Blackout. Penelitian ini bertujuan menganalisis sekuensial kerja, waktu respon, mitigasi ketika kegagalan terjadi serta strategi pemeliharaan pada Emergency Backup System yang meliputi Emergency Diesel Generator (EDG), dan sistem Baterai Uninterruptible Power Supply (UPS). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan Miles dan Huberman melalui studi literatur, observasi, diskusi, serta analisis data rekaman Sequence of Event Recorder (SER) aktual, simulator, dan manual book. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sekuensial kerja otomatis berlangsung melalui empat fase utama: deteksi gangguan oleh relai proteksi, pelepasan beban (load trip), peralihan daya oleh Baterai/UPS, EDG maupun Unit operasi normal, dan pemulihan beban. Untuk waktu respon sistem pada Baterai/UPS sebesar 0 milidetik (tanpa jeda) dan mampu mem-backup beban kritis dan komputer kontrol DCS selama 90 menit. Sementara itu, EDG berhasil auto-start hingga penutupan circuit breaker (CB) dalam waktu 11 detik untuk memulihkan tegangan Busbar Esensial 400V, lebih cepat dari batas standar manual book yaitu 15 detik. Kegagalan pada emergency backup berpotensi memicu Total Station Blackout yang menyebabkan pembengkokan poros turbin. kebocoran dan ledakan hidrogen generator, serta hilangnya visibilitas sistem kontrol DCS (black station). Dengan penerapan strategi pemeliharaan secara berkala terbukti efektif menjaga kesiapan.