Fadhlina Ristiya Dewi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tepung Tapioka di CV Harum Mekar, Kabupaten Pati Fadhlina Ristiya Dewi
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.23591

Abstract

Bahan baku merupakan komponen paling penting dalam sebuah proses produksi. Oleh karena itu, pengendalian persediaan bahan baku yang baik akan menjamin kelancaran produksi serta mencegah terjadinya kekurangan atau kelebihan persediaan yang dapat menimbulkan kerugian biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian persediaan bahan baku tepung tapioka dengan membandingkan metode Economic Order Quantity (EOQ), Just In Time (JIT) dengan kebijakan perusahaan di CV Harum Mekar, Kabupaten Pati. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2025 di CV Harum Mekar. Penentuan lokasi dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa perusahaan bergerak dalam bidang agroindustri dengan sekala besar. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu masing-masing 1 tenaga kerja dari divisi pergudangan, purchasing, dan produksi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data kebutuhan bahan baku, biaya pemesanan, dan biaya penyimpanan. Analisis dilakukan melalui perhitungan EOQ, safety stock, reorder point, maximum inventory, just in time serta Total Inventory Cost (TIC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perusahaan menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp2.327.642.302 per tahun. Metode EOQ menghasilkan jumlah pemesanan optimal 1.094.000 kg dengan total biaya persediaan Rp20.753.280 per tahun, sedangkan metode JIT menghasilkan total biaya Rp418.975.614 per tahun. EOQ merupakan metode paling efisien secara biaya dengan efisiensi 99,11%, sedangkan JIT lebih realistis diterapkan karena mempertimbangkan karakteristik bahan baku yang mudah rusak dan kelancaran produksi.