Reyka Dwinanda
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA SUKUN (ARTOCARPUS ALTILIS) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI SUB DAS CIKAMIRI Reyka Dwinanda; Sarah Fitri Soerya; Chay Asdak
Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian Vol. 8 (2026): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 8 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal menjadi upaya strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber pangan utama. Sukun (Artocarpus altilis) merupakan salah satu komoditas pangan lokal yang berpotensi mendukung diversifikasi karena mampu tumbuh pada lahan marginal dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, namun pengembangannya di Sub DAS Cikamiri masih terkendala minimnya informasi spasial mengenai kemampuan lahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kemampuan lahan budidaya sukun di Sub DAS Cikamiri, Kabupaten Garut, berdasarkan parameter tingkat erosi menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai dasar perencanaan pengembangan pangan lokal yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah skoring terhadap parameter tingkat erosi yang diklasifikasikan ke dalam lima kelas, dilanjutkan dengan overlay spasial dan validasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat erosi sangat ringan mendominasi seluas 2.560,87 ha (42,12%), diikuti erosi berat seluas 1.865,34 ha (30,68%). Wilayah yang paling sesuai untuk budidaya sukun berada pada kelas erosi sangat ringan hingga ringan, mencakup 52,48% dari total wilayah, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai kawasan produksi sukun penunjang pangan lokal, sementara wilayah dengan erosi berat hingga sangat berat memerlukan tindakan konservasi intensif sebelum dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ketahanan pangan wilayah.