Delly Maria Pusung
Kementerian Agama Kota Manado

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Ekoteologi Dan Tanggung Jawab Gereja Dalam Menghadapi Krisis Lingkungan Di Indonesia Delly Maria Pusung
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Juli 2026 -- (Publication in Progress)
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis lingkungan di Indonesia tidak lagi dapat dipahami sebagai persoalan teknis semata, karena deforestasi, kebakaran lahan gambut, pencemaran udara, sampah plastik, dan degradasi ekosistem telah berdampak langsung pada kesehatan, ekonomi, keadilan sosial, serta keberlanjutan hidup masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis landasan ekoteologis bagi tanggung jawab gereja, merumuskan bentuk keterlibatan gereja, dan menyusun strategi integrasi tanggung jawab ekologis ke dalam kehidupan kelembagaan gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data dikumpulkan melalui penelusuran artikel jurnal daring dan teks-teks Alkitab yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif melalui proses pengodean, kategorisasi, perbandingan, dan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis lingkungan di Indonesia berakar pada paradigma antroposentris, eksploitasi sumber daya, pola konsumsi berlebihan, lemahnya tata kelola, serta rendahnya integrasi kesadaran ekologis dalam kehidupan keagamaan. Secara teologis, tanggung jawab gereja bertumpu pada pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta dan pemilik ciptaan, manusia sebagai penatalayan, serta gereja sebagai komunitas yang dipanggil menghadirkan kesaksian ekologis. Penelitian ini menghasilkan kerangka integratif yang memadukan empat dimensi, yaitu teologis-hermeneutis, formatif-liturgis, institusional-operasional, dan profetis-kolaboratif. Kerangka tersebut bergerak dari pembaruan pemahaman, pembentukan spiritualitas, perubahan tata kelola, hingga keterlibatan publik dan transformasi ekologis. Kerangka ini menegaskan kesesuaian antara pengakuan iman, pembentukan karakter, tata kelola kelembagaan, dan kesaksian gereja dalam ruang publik. Penelitian menyimpulkan bahwa tanggung jawab ekologis tidak boleh ditempatkan sebagai program tambahan, melainkan sebagai budaya gereja yang diwujudkan melalui pengajaran, liturgi, kebijakan, anggaran, pelayanan sosial, advokasi, dan kolaborasi. Dengan demikian, ekoteologi berfungsi sebagai landasan normatif sekaligus operasional bagi gereja dalam merespons krisis lingkungan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan.