Keputihan sering dianggap biasa oleh masyarakat sehingga tidak ditangani dengan baik namun keputihan ini bisa saja menunjukan adanya suatu penyakit. Keputihan sering tidak dianggap serius atau sebagai suatu hal yang normal namun pada kenyataannya keputihan dapat dikatakan normal (fisiologis) atau tidak normal (patologis). Stres merupakan reaksi atau respon tubuh terhadap stresor psikososial, tekanan mental dan beban kehidupan. Stresor adalah berbagai hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres.Bila seseorang dapat menanggapi stresor dengan baik maka keadaan individu akan senang namun jika stres tidak ditanggapi dengan baik maka individu akan mengalami depresi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 2025 di Pondok Pesantren Trucuk, Kabupaten Klaten, dengan melibatkan 32 santri putri. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, ceramah, diskusi interaktif, demonstrasi, tanya jawab, pendampingan, serta evaluasi menggunakan desain pretest–posttest. Instrumen evaluasi berupa kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi, kuesioner tingkat stres, dan kuesioner kepuasan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 58,6 menjadi 86,2, atau meningkat sebesar 27,6 poin (47,1%) setelah mengikuti program pendampingan. Tingkat stres peserta juga mengalami penurunan dari kategori sedang menjadi ringan. Selain itu, tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan tergolong sangat baik dengan skor rata-rata 4,6 dari 5, terutama pada aspek metode penyampaian yang interaktif dan materi yang mudah dipahami. Kesimpulan: Pendampingan kesehatan reproduksi efektif meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai keputihan serta menurunkan tingkat stres dalam menghadapi masalah kesehatan reproduksi. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di lingkungan pondok pesantren sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kesehatan reproduksi remaja..