Pemasaran sosial menyediakan prinsip untuk merancang intervensi perilaku, tetapi masih terbatas dalam menjelaskan bagaimana desain bergerak menuju aktualisasi perilaku awal ketika perilaku sasaran berbeda dan audiens bersifat heterogen. Penelitian ini mengkaji tiga intervensi berbasis sekolah di Banyuwangi melalui perspektif pemasaran sosial dengan desain studi kasus kualitatif tunggal tertanam yang disusun secara temporal. Dataset mencakup 49 partisipan—21 siswa, sembilan pelaksana dari universitas, enam guru, satu kepala sekolah, dan 12 orang tua/wali—serta sekitar 52 jam observasi, 20 wawancara individual, enam FGD, dan bukti dokumenter. Analisis menggabungkan pengodean abduktif yang terinspirasi pendekatan Gioia, analisis dalam unit, dan perbandingan lintas unit. Unit digital menunjukkan pembingkaian ulang perilaku dan praktik produktif yang dipandu, tetapi dibatasi kesenjangan kemampuan. Unit lingkungan menunjukkan aktualisasi perilaku yang dapat diamati secara langsung, dengan pemahaman dan daya tahan sebagai kondisi pembatas. Unit kolaboratif menunjukkan koordinasi yang saling bergantung dan pengaruh situasional yang muncul, sementara aktivitas kompetitif memicu penarikan diri pada sebagian peserta. Perbedaan lintas unit ditafsirkan melalui keterlaksanaan tindakan, keterwujudan, keteramatan, ketergantungan sumber daya, saling ketergantungan sosial, dan kecepatan umpan balik. Segmentasi yang direncanakan belum sepenuhnya menangkap heterogenitas peserta, sehingga fasilitasi adaptif lebih dibutuhkan. Social marketing offers principles for designing behavioral interventions, but less is known about how design moves toward initial enactment when target behaviors differ and audiences are heterogeneous. This study examined three school-based interventions in Banyuwangi through a social marketing-informed lens using a temporally structured single embedded qualitative case study. The dataset comprised 49 participants—21 students, nine university implementers, six teachers, one principal, and 12 parents/guardians—plus approximately 52 hours of observation, 20 individual interviews, six FGDs, and documentary evidence. Analysis combined Gioia-inspired abductive coding, within-unit analysis, and cross-unit comparison. The digital unit showed behavioral reframing and prompted productive practice, constrained by capability gaps. The environmental unit showed directly observable prompted enactment, with comprehension and endurance as boundary conditions. The collaborative unit showed interdependent coordination and emergent situational influence, while competitive activity triggered withdrawal among some participants. Cross-unit variation was interpreted through actionability, tangibility, observability, resource dependence, social interdependence, and immediacy of feedback. Planned segmentation did not fully capture participant heterogeneity, increasing reliance on adaptive facilitation. The findings clarify design-to-enactment and the role of adaptive facilitation.