Arus urbanisasi yang masif secara signifikan mengancam eksistensi tradisi lokal di kawasan pinggiran kota, sehingga menegaskan urgensi pendidikan sosial informal sebagai mekanisme pertahanan kultural yang vital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pendidikan sosial masyarakat pinggiran kota dalam upaya mempertahankan tradisi lokal di tengah desakan modernisasi. Menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research), studi ini secara sistematis menganalisis data sekunder yang bersumber dari artikel jurnal akademik dan buku teks yang diterbitkan antara tahun 2022 hingga 2026. Data tersebut diinterpretasikan melalui teknik analisis isi kualitatif. Hasil sintesis literatur mengungkapkan bahwa pendidikan sosial beroperasi secara organik melalui ruang-ruang komunal, seperti keluarga dan perkumpulan warga, dengan mengandalkan keteladanan dan partisipasi langsung alih-alih kurikulum formal. Lebih lanjut, temuan menunjukkan bahwa masyarakat pinggiran kota terbukti tidak menolak modernitas secara kaku; mereka melakukan negosiasi kultural yang kompleks dengan menyederhanakan aspek seremonial tradisi namun tetap menjaga ketat substansi filosofis kerukunannya. Dinamika partisipatif ini secara efektif menumbuhkan identitas budaya hibrida yang tangguh, memungkinkan populasi transisi beradaptasi dengan pragmatisme perkotaan tanpa kehilangan akar sosiokulturalnya. Studi ini menyimpulkan bahwa pendidikan sosial informal berfungsi sebagai katalisator kritis bagi resiliensi budaya di wilayah perbatasan kota. Temuan ini memberikan wawasan teoretis dan implikasi praktis bagi pemerintah daerah untuk memperkuat strategi pelestarian budaya yang berbasis komunitas.