Background: Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) is a serious multi system hormonal disorder affecting women's reproductive health; however, public awareness particularly among pre-marital couples remains low. Purpose: To increase knowledge regarding reproductive health and PMOS among pre-marital couples. Method: This educational activity on PMOS for pre-marital couples was conducted on December 13 and 27, 2023, at the Office of Religious Affairs (KUA) in Banyuwangi City District, Banyuwangi Regency, East Java. The activity aimed to provide an understanding of PMOS to couples attending pre-marital classes at the KUA prior to their marriage solemnization. Twenty women from pre-marital couples participated as respondents. Knowledge levels were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved analyzing the aggregated questionnaire results and descriptively reporting the respondents' knowledge gains regarding PMOS. Results: All participants (100%) attended the activity, with an active questioning rate of 25%. Following the educational session, respondents demonstrated increased knowledge in the following areas: the definition of PMOS (25% increase), the causes of PMOS (15% increase), and the long-term effects of PMOS (35% increase). Meanwhile, understanding regarding the partner's role in PMOS prevention was already at 100% prior to the educational activity. Conclusion: Reproductive health education regarding polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) significantly influences the knowledge and attitudes of pre-marital couples. Targeted education effectively enhances awareness and understanding of PMOS, thereby contributing to the prevention of reproductive health complications within the community. Suggestion: It is recommended that the Banyuwangi City Office of Religious Affairs (KUA) permanently integrate PMOS education into the pre-marital class curriculum and optimize the use of visual aids such as posters and leaflets in service areas through ongoing collaboration with the local Community Health Center Additionally, the Community Health Center is encouraged to facilitate early screening for the risk of this endocrine-metabolic disorder using simple questionnaires during the mandatory pre-marital health examinations for prospective couples. Keywords: Attitudes; Health education; Knowledge; PMOS; Pre-marital couples Pendahuluan: Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) merupakan gangguan hormonal multi sistem serius yang memengaruhi kesehatan reproduksi wanita, namun kesadaran masyarakat khususnya pasangan pranikah mengenai kondisi ini masih tergolong rendah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi mengenai PMOS pada pasangan pranikah. Metode: Kegiatan edukasi PMOS kepada pasangan pranikah ini dilaksanakan pada tanggal 13 dan 27 Desember 2023 di Kantor Urusan Agama atau KUA Banyuwangi Kota Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang PMOS kepada pasangan pranikah yang menjalani kelas pranikah di KUA sebelum pelaksanaan akad nikah. Melibatkan 20 perempuan pasangan pranikah menjadi responden. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan mengkaji hasil akumulasi kuesioner dan disampaikan secara deskriptif terkait pencapaian dan peningkatan pengetahuan responden tentang PMOS. Hasil: Menunjukkan seluruh peserta (100%) hadir mengikuti kegiatan dengan tingkat keaktifan bertanya sebesar 25%. Terdapat peningkatan pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi mengenai pengertian PMOS sebesar 25%, penyebab PMOS sebesar 15%, dan efek jangka panjang PMOS sebesar 35%. Sementara itu, pemahaman mengenai peran pasangan dalam pencegahan PMOS sebelum kegiatan edukasi sudah mencapai 100%. Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi tentang polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pasangan pranikah. Meningkatnya pengetahuan melalui edukasi yang terarah terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang PMOS, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pencegahan komplikasi kesehatan reproduksi di masyarakat. Saran: Diharapkan kepada KUA Banyuwangi Kota untuk secara permanen mengintegrasikan edukasi PMOS ke dalam kurikulum kelas pranikah serta mengoptimalkan penggunaan media visual seperti poster dan leaflet di ruang pelayanan melalui sinergi berkelanjutan bersama Puskesmas setempat. Kepada pihak Puskesmas juga diharapkan dapat memfasilitasi screening dini risiko gangguan endokrin-metabolik ini melalui kuesioner sederhana saat pemeriksaan kesehatan prasyarat nikah calon pengantin.