This Author published in this journals
All Journal Jurnal Audience
Tetrian Widyanto
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Praktik Budaya Digital dan Penerimaan Label Gizi Masyarakat Urban Fachrudin Ali Ahmad; Achmad Jamil; Tetrian Widyanto
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v9i2.17555

Abstract

Kebijakan pelabelan gizi memasuki ruang digital yang lebih dulu dikuasai konten promosi minuman manis, sehingga tantangan yang muncul lebih bersifat komunikatif ketimbang semata-mata soal gizi dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini menganalisis pemaknaan konsumsi minuman kekinian sebagai praktik bermedia, mekanisme kurasi algoritmik dalam mengedarkan makna konsumsi, dan cara masyarakat urban menerima label Nutri-Level yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026. Kerangka analisisnya berlapis. Mediatisasi mendalam dipakai sebagai landasan cara pandang, platformisasi produksi budaya menjelaskan mekanisme sirkulasi, dan media sebagai praktik dipakai untuk membaca kebiasaan konsumsi, sementara model kerentanan diferensial terhadap efek media dan konsep penyatuan makna digunakan untuk membaca penerimaan pesan kebijakan. Penelitian menerapkan studi kasus tunggal dengan subunit tertanam pada empat informan masyarakat urban dari dua kelompok usia, menggabungkan wawancara mendalam dengan dua puluh enam bahan visual berupa arsip unggahan, foto konsumsi, dan tangkapan lini masa. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi dimaknai sebagai ganjaran diri dan penanda kepribadian oleh seluruh informan, kesadaran atas kurasi algoritmik bersifat menyeluruh namun berhenti pada tingkat rekomendasi tanpa membedakan penempatan yang berbayar, dan pesan kesehatan dicerna melalui rentang sikap yang beragam. Jeda menimbang antara paparan konten dan pembelian ternyata tetap muncul meskipun platform menyatukan tontonan dengan transaksi dalam satu layar, serta kesadaran atas bahaya gula yang mendahului sosialisasi kebijakan pada seluruh informan tanpa selalu berlanjut menjadi pembatasan konsumsi. Dari temuan tersebut disimpulkan bahwa komunikasi kebijakan Nutri-Level perlu bergeser dari penyediaan informasi menuju upaya mempertemukan pesan kesehatan dengan makna yang sudah terbentuk di dalam praktik bermedia masyarakat urban.