Abstrak: Masalah stunting, kekurangan gizi pada balita, dan anemia pada remaja masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di Kelurahan Kalimulya, Depok dalam membuat puding daun kelor sebagai Makanan Tambahan (PMT) bergizi untuk balita dan pencegah anemia remaja, sekaligus membangun inkubasi bisnis pangan fungsional berbasis komunitas. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan gizi, pelatihan pembuatan produk, pendampingan legalitas usaha, dan evaluasi berbasis indikator keberhasilan yang terukur. Mitra kegiatan adalah 25 kader Posyandu dan ibu rumah tangga. Instrumen evaluasi terdiri atas kuesioner pengetahuan 20 butir berskala 0–100, lembar observasi keterampilan produksi 10 aspek dengan rubrik skala 1–4 yang dikonversi ke skala 0–100, serta lembar capaian luaran usaha. Peningkatan dihitung dengan rumus persentase peningkatan [(skor post – skor pre) / skor pre] × 100% dan diperkuat dengan uji N-Gain. Hasil kegiatan menunjukkan skor pengetahuan meningkat dari 42,3 menjadi 75,5 (peningkatan 78,4%; N-Gain 0,58 kategori sedang) dan skor keterampilan produksi meningkat dari 43,1 menjadi 79,5 (peningkatan 84,5%; N-Gain 0,64 kategori sedang), dengan 82,6% peserta mampu berproduksi sesuai standar mutu secara mandiri. Sebanyak 15 produk puding daun kelor telah berhasil memperoleh sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan rekomendasi halal dari LIMO. Program inkubasi bisnis menghasilkan kelompok usaha kecil dengan omzet awal rata-rata Rp 1.200.000 per bulan per kelompok, dan 80% kelompok masih aktif berproduksi pada evaluasi 60 hari pascaprogram.Abstract: Stunting, nutritional deficiencies in toddlers, and anemia in adolescents remain significant public health challenges in Indonesia. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of residents in Kalimulya Village, Depok in producing moringa leaf pudding as a nutritious supplementary food (PMT) for toddlers and an anemia preventive for adolescents, while simultaneously establishing community-based functional food business incubation. The implementation methods included nutritional counseling, product-making training, business legality assistance, and evaluation based on measurable success indicators. Partners consisted of 25 Posyandu cadres and housewives. The evaluation instruments comprised a 20-item knowledge questionnaire (0–100 scale), a 10-aspect production skill observation rubric (1–4 scale converted to 0–100), and a business output attainment sheet. Improvement was computed using the percentage increase formula [(post – pre) / pre] × 100% and confirmed with the N-Gain test. Knowledge scores rose from 42.3 to 75.5 (78.4% increase; N-Gain 0.58, moderate) and production skill scores rose from 43.1 to 79.5 (84.5% increase; N-Gain 0.64, moderate), with 82.6% of participants able to produce the pudding independently according to the quality standard. Fifteen moringa pudding products successfully obtained Home Industry Food (PIRT) certification and halal recommendations from LIMO. The business incubation program produced small business groups with an initial average monthly revenue of IDR 1,200,000 per group, and 80% of the groups remained actively producing at the 60-day post-program evaluation.