Dina Amilatusholiha
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

APLIKASI DISTRAKSI EKSPRESI PERASAAN PADA KLIEN SKIZOFRENIA TAK TERINCI DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN: STUDI KASUS Dina Amilatusholiha; Arum Pratiwi
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 7 No. 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Skizofrenia masih menjadi permasalahan di Indonesia. Salah satu gejala positif dari skizofrenia adalah halusinasi pendengaran. Pasien dengan halusinasi pendengaran biasanya akan mengalami penurunan kemampuan individu dalam kehidupan sehari-harinya. Beberapa dampak yang muncul pada pasien halusinasi adalah cemas, depresi, dan isolasi sosial. Salah satu terapi yang bisa mengurangi gejala tersebut adalah mengekspresikan perasaan pada orang lain. Tujuan: Mengaplikasikan intervensi ekspresi perasaan pada kasus halusinasi pendengaran melalui asuhan keperawatan. Gambaran Kasus: Seorang pria berusia 30 tahun mengalami trauma sebagai korban buli. Akibat koping yang tidak efektif dan kurangnya dukungan, muncullah suara-suara yang berisi menyalahkan pasien sehingga pasien tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal baru karena takut dianggap salah. Intervensi: Studi kasus desain observasi partisipasif menggunakan proses keperawatan berdasarkan Evidence-Based Practice distraksi mengekspresikan perasaan dengan bercakap-cakap yang dilakukan sekali sehari selama 3 hari dengan mengajarkan strategi pelaksanaan 1-4. Hasil: Pasien dapat mengidentifikasi isi halusinasinya, yaitu suara-suara yang selalu menyalahkan dirinya; waktu terjadinya, yaitu di pagi hari atau di tengah malam; situasi yang memicu halusinasi, yaitu saat pasien berdiam diri; manfaat distraksi perasaan, yaitu pasien merasakan suara halusinasi terdengar samar saat sedang bercakap-cakap; dan pasien sadar bahwa halusinasi yang ia alami adalah penyakit dan bukanlah hal yang salah. Kesimpulan: Distraksi ekspresi perasaan bercakap-cakap dinilai efektif dalam mengendalikan halusinasi pendengaran karena pasien mengetahui jenis halusinasi, waktunya, situasi yang menyebabkannya, dan manfaat bercakap-cakap. Saran: Diharapkan teknik distraksi untuk mengungkapkan perasaan melalui percakapan dengan pasien halusinasi pendengaran dapat diterapkan secara konsisten dan diajarkan kepada keluarga untuk mempersiapkan pelaksanaannya saat pasien kembali bersama keluarganya.