Partisipasi laki-laki dalam program keluarga berencana di Indonesia masih tergolong rendah, yang tercermin dari minimnya penggunaan kontrasepsi pria dibandingkan dengan perempuan. Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah terbatasnya pengetahuan laki-laki, yang dipengaruhi oleh faktor individu, jenis pekerjaan, serta konteks sosial budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai faktor yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan pekerja laki-laki mengenai kontrasepsi pria di sektor industri pertambangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 95 responden dipilih dari total populasi 1.198 pekerja laki-laki di PT Saptaindra Sejati Site Maco menggunakan teknik simple random sampling untuk memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi menjadi sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan uji univariat dan chi-square. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,005), kelelahan kerja (p=0,001), paradigma sosial (p=0,037), serta paparan media massa (p=0,006) dengan pengetahuan mengenai kontrasepsi pria. Sebaliknya, variabel usia (p=0,214) dan status pernikahan (p=0,131) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengetahuan laki-laki tidak semata-mata ditentukan oleh faktor demografis, tetapi juga dipengaruhi oleh akses terhadap informasi, kondisi lingkungan kerja, serta norma sosial yang berlaku. Dengan demikian, diperlukan upaya promosi kesehatan berbasis tempat kerja yang lebih optimal, disertai dengan edukasi kesehatan reproduksi yang terfokus, guna meningkatkan keterlibatan laki-laki dalam program keluarga berencana.