Penelitian ini menganalisis bagaimana community relations dalam program Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation berperan meningkatkan corporate branding lembaga, serta mengidentifikasi kendala dalam implementasinya. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus yang berlandaskan paradigma post-positivisme, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan perwakilan Tim Corporate Secretary, Project Officer Tim Beasiswa, dan dua mahasiswa penerima beasiswa, dilengkapi observasi dan studi dokumentasi, lalu dianalisis secara tematik menggunakan CSR Communication Model Morsing dan Schultz (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertamina Foundation menerapkan Stakeholder Information, Response, dan Involvement Strategy secara simultan dan progresif, sehingga mahasiswa bertransformasi dari penerima manfaat pasif menjadi brand ambassador organik yang secara sukarela melindungi dan mempromosikan reputasi lembaga, paling nyata melalui program Desa Energi Berdikari yang lahir dari inisiatif mahasiswa sendiri. Namun, penelitian ini juga menemukan enam kendala yang saling berkaitan: lemahnya komitmen pasca-kontrak, miskomunikasi atribusi brand dengan mitra lapangan, putusnya rantai informasi antar-angkatan, terbatasnya pendampingan fisik, fragmentasi internal mahasiswa, dan disparitas geografis di wilayah 3T. Penelitian ini menyimpulkan bahwa community relations berfungsi sebagai mekanisme branding organik yang bekerja melalui kepercayaan komunitas, bukan melalui iklan konvensional, serta merekomendasikan penguatan mekanisme transisi antar-angkatan, perluasan strategi respons kepada mitra lapangan, dan percepatan pengembangan platform komunikasi alumni.