This Author published in this journals
All Journal Jurnal Agrotan
Ketut Indrayana
Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Barat

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENERAPAN PAKET INOVASI TEKNOLOGI KAKAO PADA PENGEMBANGAN MODEL BIOINDUSTRI KAKAO DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR, SULAWESI BARAT: Application Cocoa Innovation Technology Package on the Development of Bioindustry Model on Cocoa in Polewali Mandar, West Sulawesi Ketut Indrayana
Jurnal Agrotan Vol. 2 No. 02 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep pertanian bioindustri tanpa limbah sebagai salah satu strategi untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing serta kesejahteraan petani. Konsep ini, menuntut setiap lini produk mempunyai nilai jual, sehingga penggunan sumber daya menjadi efisien dan dapat menekan biaya produksi. Inovasi teknologi yang diterapkan dalam Kegiatan Pengembangan Model Bioindustri kakao adalah integrasi Kakao dengan ternak kambing. Teknologi tersebut sangat berpotensi untuk memberikan dampak peningkatan produksi dan pendapatan petani yang tinggi. Tujuan kegiatan yaitu meningkatkan penerapan teknologi budidaya kakao dan pascapanen, pengolahan limbah kakao (kulit buah, plasenta) dan pemanfaatannya yang ramah lingkungan oleh petani. Kegiatan Model pertanian bioindustri kakao di Polewali Mandar dilaksanakan pada tahun 2015 dengan melibatkan kelompok tani kakao dan ternak di Desa Tapango Barat, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Hasil dari kegiatan yaitu : 1) Telah diperoleh 2 (dua) kelompok tani yang dapat menerapkan model pengembangan budidaya kakao yang terintegrasi dengan ternak kambing yang merupakan suatu model pengembangan kakao ramah lingkungan, 2) Meningkatnya keterampilan SDM petani binaan dalam mengelola sistem usahatani intergrasi tanaman kakao - ternak kambing berbasis bio industri melalui kegiatan pendampingan, penyuluhan dan pelatihan, 3) Pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten maupun desa mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Pengembangan Model Bioindustri Kakao di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, hasil kegiatan model integrasi kakao dengan ternak kambing akan menjadi model pengembangan kakao ramah lingkungan Khususnya di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Bioindustri
PERBAIKAN USAHA TANI BAWANG MERAH DATARAN RENDAH DENGAN PERABANDINGAN PAKET TEKNOLOGI PETANI DENGAN PAKET TEKNOLOGI INTRUDUKSI DI KABUPATEN MAJENE: Improving Lowland Shallot Farming: Comparative Review on Farmers Technology Package and Introduction Technology Package in Majene Regency Ketut Indrayana
Jurnal Agrotan Vol. 3 No. 01 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari pengkajian ini adalah mendapatkan paket teknologi bawang merah dataran rendah spesifik lokasi dan meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pengkajian dilaksanakan di Desa Baruga, Kecamatan Banggai Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat mulai bulan Maret sampai dengan Desember 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat ulangan (petani sebagai ulangan) yang terdiri dari tiga macam paket teknologi, yaitu : paket teknologi budidaya bawang merah dari BALITSA, paket teknologi modifikasi, dan paket teknologi petani. Dalam percobaan ini digunakan tiga varietas bawang merah yaitu Maja, Bima Brebes, dan Manjung. Analisa data untuk membandingkan perlakuan paket teknologi budidaya bawang merah dilakukan dengan uji t pada taraf 5 %. Sementara data penerimaan usahatani dianalisis dengan RC ratio. Hasil pengkajian menunjukan bahwa varietas bawang merah yang direkomendasikan dilokasi pengkajian adalah Bima Brebes. Ketiga perlakuan paket teknologi (menggunakan varietas Bima Brebes) yang dikaji menguntungkan untuk diterapkan karena RC ratio > 1. RC ratio masing-masing perlakuan adalah paket teknologi Balitsa sebesar 5,2; paket teknologi modifikasi sebesar 5,3; dan paket teknologi petani sebesar 4,1. Berdasarkan analisis MBCR, maka teknologi introduksi Balitsa dan modifikasi layak untuk dikembangkan.
KAJIAN PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH (PBK) KAKAO RAMAH LINGKUNGAN DI KABUPATEN MAMUJU: A Study on Eco-friendly Controlling on Cocoa Pod Borer in Mamuju Ketut Indrayana
Jurnal Agrotan Vol. 3 No. 01 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari pengkajian ini mendapatkan satu model pengendalian hama PBK yang aplikatif dan ramah lingkungan sehinga dapat menurunkan tingkat serangan hama PBK dan meningkatnya produksi dan mutu biji kakao. Kegiatan Pengakjian ini dilaksanakan di Desa Camaploga, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat pada Januari- Desember tahun 2014. Pengamatan yang dilakukan yaitu mendokumentasikan dengan baik semua aktivitas pengendalian hama PBK yang dilakukan petani dan pengaruhnya terhadap tingkat serangan hama PBK, hasil dan mutu biji kakao. Data yang terkumpul akan ditabulasi dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif dari masing-masing kemampuan petani dalam pengelolaan tanamannya. Hasil kajian yang dilakukan yaitu Rata-rata berkurangnya kehilangan hasil akibat PBK pada intensitas serangan sedang sampai berat sebesar 73,04%, Rata-rata produksi sesudah introduksi 613 kg/ha, lebih baik dibanding sebelum introduksi teknologi 446 kg/ha, Perubahan teknologi telah memberi peningkatan hasil sebesar 36.5%, Rakitan teknologi introduksi pengendalian PBK membutuhkan tambahan biaya 11,94% per hektar, lebih tinggi dari sebelum pengendalian, namun diikuti keuntungan bersih per hektar Rp 3.065.000,- atau meningkat 48,79% dibandingkan sebelum pengendalian yang hanya Rp.2.060.000,-Peningkatan hasil bersih 48,79%, B/C ratio > 1,0 dan MBCR sebesar 6,14 telah menciptakan peluang usahatani yang layak.Penghematan biaya tenaga kerja sebesar 65,9% yaitu dari 544 jam kerja/ha sebelum introduksi menjadi 185,6 jam kerja/ha sesudah introduksi teknologi.