Adriesti Herdaetha
RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Laporan Kasus: Gangguan Afektif Bipolar Tipe 1 pada Laki-Laki Usia 25 Tahun Aprilia Fani Pratiwi; Adriesti Herdaetha
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan mental akhir-akhir ini menjadi isu yang paling diperhatikan masyarakat dunia terutama Indonesia. Penderita ganggguan jiwa di Indonesia hanya sebanyak 8-11% yang melakukan pengobatan terutama penderita skizofrenia, depresi dan gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah suatu gangguan mental emosional yang berhubungan dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari posisi terendah yaitu depresi serta posisi tertinggi yaitu manik. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan ketepatan penegakan diagnosis bipolar sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Terdapat laporan kasus seorang gangguan afektif bipolar episode kini manik dengan gejala psikotik pada seorang laki-laki 25 tahun yang berada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Penegakan diagnosis gangguan afektif bipolar tipe 1 berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan status mental. Didapatkan status psikiatri yaitu mood euforia, afek meningkat, terdapat halusinasi auditorik commenting, halusinasi olfactory, bentuk pikir non realistik, arus pikir koheren, isi pikir though echo, ide kebesaran, overvalued idea, dan riwayat depresi sebelumnya. Pasien ini mendapat terapi lithium carbonate 1x200 mg, quetiapin 1x400 mg, dan chlorpromazine 1x100 mg. Pasien ini diberi obat golongan mood stabilizer, antipsikotik tipikal dan atipikal menunjukkan respons pengobatan yang baik dengan efek samping yang bisa ditoleransi.
Perempuan 20 Tahun dengan Gangguan Mental Organik E.C Epilepsi: Laporan Kasus Deny Puji Krestianto; Adriesti Herdaetha
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan mental organic adalah gangguan mental diotak secara langsung atau tidak langsung yang dipengaruhi oleh gangguan langsung di otak atau gangguan sistemik. Epilepsy adalah kelainan pada otak yang ditandai oleh bangkitan kejang epilepsy. Bangkitan epileptik yaitu munculnya tanda atau gejala tertentu yang bersifat sementara akibat aktivitas neuronal abnormal dan berlebihan di otak. Pasien dengan epilepsy memiliki peluang lebih besar menjadi psikotik sekitar enam sampai dua belas kali. Gejala epilepsy meliputi gejala praiktal, iktal dan interictal. Gejala psikotik pada epilepsy yang paling khas adalah halusinasi dan waham paranoid. Nn. M perempuan 20 tahun dengan riwayat epilepsy dengan diagnosis psikiatrik, gangguan mental organic akibat kerusakan kerusakan otak atau akibat penyakit lain atau fisik. (F06.8). pengobatan farmakologi pada pasien ini yaitu quetiapine 200 mg 1 kali sehari, divalproex 2 kali 250 mg, fenitoin 200mg 1kali sehari. Tryhexylpenidil 2mg 2kali sehari. Psikoedukasi kepada keluarga pasien bertujuan untuk mengenali dan mencegah kekambuhan dari penyakit pasien.
Laporan Kasus: Seorang Laki-Laki Usia 43 Tahun dengan Skizofrenia Paranoid Amelia Rizki Ningtiyas; Adriesti Herdaetha
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia Paranoid adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya halusinasi dan waham yang harus menonjol. Halusinasi dapat berupa halusinasi visual, auditorik, pembauan, pengecapan rasa, bersifat seksual atau lain-lain perasaan tubuh. Halusinasi dapat mengancam pasien dengan memberikan perintah atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal. Waham dapat berupa hampir setiap jenis. Seorang laki-laki usia 43 tahun datang ke IGD RSJD dr. Arif Zainuddin Surakarta dengan linglung sejak sehari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengatakan sering mendengar suara bisikan dari kakaknya yang sudah meninggal dan pasien dapat melihat orang-orang yang sudah meninggal. Pemeriksaan status mental didapatkan keadaan afektif mood pasien hipotimia, afek tumpul, keserasian tidak serasi, dan empati tidak dapat dirabarasakan. Gangguan persepsi didapatkan adanya halusinasi auditorik dan halusinasi visual. Proses pikir didapatkan bentuk pikiran non realistik, isi pikir waham dikejar, waham kebesaran, waham bizzare, dan arus pikir asosiasi longgar. Pasien diberikan terapi berupa Chlorpromazine 1x100 mg dan risperidone 2x2 mg. Pasien direncanakan rawat inap dan rehabilitas sosial di rumah sakit.