Siti Ariffatus Saroh
RSUD dr. Sayidiman Magetan

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Seorang Anak Laki-Laki Usia 1 Tahun Sindrom Down dengan Hipotiroid Kongenital Suspek Bronkitis : Laporan Kasus Syahna Apriliani; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KEMENKES tahun 2019 melaporkan kasus sindrom down di Indonesia meningkat. Hasil riset dilakukan pada tahun 2010 pada anak 24–59 bulan,kasus sindrom down sebesar 0,12%, tahun 2013 meningkat 0,13% dan tahun 2018 menjadi 0,21%. Sindrom down memiliki rongga hidung yang kecil sehingga sulit untuk melawan penyakit infeksi. Selain itu,memiliki klinis kelemahan otot, gambaran wajah datar,bentuk mata keatas,bentuk kuping abnormal, satu garis horizontal telapak tangan, kelenturan sendiri yang berlebihan,jari kelingking terdapat satu sendi, lipatan pada ujung mata, jarak berlebihan antara jempol dan jari telunjuk kaki disertai ukuran lidah yang tidak sebanding dengan mulut. Laporan Kasus:Seorang anak laki-laki umur 1 tahun 1 bulan 9 hari di bawa ke UGD RSUD dr.Sayidiman Magetan dengan keluhan batuk berdahak dan demam terus menerus pada pagi hari lalu sesak pada sore harinya dan dikonsulkan ke bagian Ilmu Kesehatan Anak, diagnosis sindrom down dengan hipotiroid kongenital dan suspek bronkitis, rencana dilakukan pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan foto thorax.Hasil pemeriksaan fisik didapatkan retraksi subcostal, ruam kemerahan pada tangan dan kaki serta ronki pada kedua lapang paru,pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan TSH.Kesimpulan:sindrom down dengan hipotiroid kongenital menjadi salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan.Pemeriksaan dini penting untuk menghindari keterlambatan diagnosis dan intervensi.
Cerebral Palsy dengan Syok Septik dan Gizi Buruk: Laporan Kasus Qonita Rahmadiena; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cerebral Palsy merupakan gangguan perkembangan neuromotor yang sering terjadi pada anak. Anak dengan cerebral palsy tidak hanya mengalami gangguan fungsi motorik, namun sebagian besar juga mengalami masalah medis yang sangat luas yang meliputi masalah sensorik, perilaku, kognitif, bahasa, epilepsi dan masalah muskuloskeletal sekunder. Angka kejadian cerebral palsy diperkirakan dapat mencapai 10 per 1000 kelahiran hidup di negara berpendapatan menengah ke bawah. Selain gangguan perkembangan, anak dengan cerebral palsy juga dapat mengalami gangguan pertumbuhan bahkan gizi buruk karena intake makanan dan minuman yang kurang akibat teradinya gangguan oromotor. Anak dengan cerebral palsy juga rentan mengalami infeksi karena berbagai factor risikonya. Penulisan ilmiah ini bertujuan melaporkan sebuah kasus tentang seorang anak laki-laki berusia 3 tahun yang datang diantar keluarga ke IGD RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan penurunan kesadaran, BAB cair 2x, demam tinggi, sulit makan, serta batuk-pilek dan riwayat epilepsi sejak usia 6 bulan. Sebelumnya, pasien sudah berobat di bidan, diberikan paracetamol. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan penunjang, dan didiagnosis sebagai cerebral palsy dan gizi buruk fase stabilisasi dengan komplikasi syok septik, dan diberikan penatalaksanan secara komprehensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD dr. Sayidiman Magetan. Simpulan: perlu dilakukan pemeriksaan dan tatalaksana secara komprehensif pada anak CP dengan komplikasi.
Dermatitis Atopik dan Selulitis pada Bayi Berusia 7 Bulan: Laporan Kasus Ayu Gita Rahmawati Setyawan; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronik yang bersifat residif disertai rasa gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak yang berhubungan dengan peningkatan kadar igE dalam serum dan riwayat atopik keluarga atau riwayat penderita dermatitis. Komplikasi pada dermatitis atopik dapat disebabkan karena infeksi sekunder, kulit yang mengalami disfungsi barrier menjadi tempat masuk bakteri terutama staphyloccous yang dapat menyebabkan komplikasi salah satunya adalah selulitis. Selulutis merupakan infeksi akut pada kulit yang melibatkan dermis dan jaringan subkutan. Manisfestasi klinis yang muncul pada selulitis adalah gejala prodromal seperti demam,malaise,sakit kepala dan menggigil. Pasien dibawa orang tuanya ke IGD RSUD Dr. Sayidiman Magetan mengeluhkan tungkai kaki kanan anaknya bengkak, merah dan panas sejak 1 hari yang lalu. Keluhan disertai demam dan mual muntah. Awalnya ±3 minggu yang lalu muncul papul dimulai dari bagian kepala berisi cairan, lesi terdapat pada kepala, perut, tungkai kaki kanan. Pemeriksaan status lokalis didapatkan lesi makula eritematosa berbatas tidak jelas disertai edem pada tungkai kaki kanan pasien, lesi makula eritematosa berbatas tegas disertai skuama dan krusta berwarna kuning kecoklatan pada kepala pasien dan lesi papul-makula dasar eritematosa disertai skuama dan xerosis pada perut. Terapi diberikan antibiotik, kortikosteroid, antipiretik dan topikal kombinasi pelembab emolin, antibiotik, dan kortikosteroid..
Laki-Laki 5 Tahun 10 Bulan dengan Asma Bronkial Intermiten Eksaserbasi Akut Serangan Berat : Laporan Kasus Syafira Anggraini Khusna; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma bronkial merupakan inflamasi kronik pada saluran nafas (GINA, 2019). Eksaserbasi asma bronkial adalah episode perburukan dari gejala asma yang progresif. World Heaith Organization (WHO) menyebutkan prevalensi asma bronkial di dunia pada orang dewasa 3%-5% sedangkan pada anak 7%-10%. Prevalensi asma anak di Indonesia sekitar 2%-30%, terdiri atas !0% usia sekolah dasar dan 6,5% usia sekolah menengah pertama. Secara umum faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya asma bronkial terbagi atas faktor genetik dan lingkungan. Trias gejala klinis klasik asma bronkial terdiri dari sesak napas, mengi, dan batuk (malan dan dini hari). Eksaserbasi asma dapat disertai distress pernapasan. Pemeriksaan penunjang asma bronkial yaitu uji fungsi paru. Berdasarkan kekerapan gejala diklasifikasikan menjadi intermiten, persisten ringan, sedang, dan berat. Sedangkan berdasarkan berat derajat serangan asma bronkial diklasifikasikan menjadi serangan akut ringan, sedang, berat, dan keadaan mengancam jiwa. Tatalaksana asma bronkial anak bertujuan untuk menjamin tumbuh kembang anak yang optimal. Jika asma bronkial tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan kekambuhan yang mengganggu aktifitas dan kualitas hidup.
Bayi Laki-Laki Usia 2 Hari dengan Kejang pada Neonatus: Laporan Kasus Tyas Hanurita Subekti; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang pada neonatus adalah perubahan paroksismal dari fungsi neurologik seperti perilaku, fungsi sensorik, motorik dan fungsi autonom sistem saraf yang terjadi pada bayi berumur nol hari sampai dengan 28 hari pertama kehidupan (bayi cukup bulan) atau 44 minggu masa konsepsi (usia kronologis + usia gestasi pada saat lahir) pada bayi premature. Insiden di Amerika Serikat diperkirakan antara 80-120 kasus per 100.000 neonatus per tahun. Di Indonesia Kejang terjadi pada 1 hingga 5/1000 kelahiran hidup, dan kejadiannya meningkat pada bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah. Kami melaporkan kasus bayi lakilaki berusia 2 hari datang ke Instalasi Gawat Darurat di RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan kejang sebanyak 1 kali dengan durasi < 1 menit. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan penunjang, diagnosis awal pada pasien adalah kejang pada neonatus. Kasus ini menggambarkan kasus kejang pada neonatus. Kesimpulan kasus ini menekankan pada pengobatan dan observasi lanjutan pada kasus kejang neonatal.
Pentalogy of Fallot (POF) pada Seorang Anak 15 Bulan dengan Berat Badan Kurang dan Sangat Pendek Anggitania Shella Brillianingtiyas; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentalogy of Fallot adalah kombinasi dari komponen Tetralogy of Fallot klasik yaitu VSD besar, overriding aorta, stenosis pulmonal, dan hipertrofi ventrikel kanan dengan tambahan kelainan kelima berupa defek septum atrium (ASD)/ Patent Foramen Ovale (PFO). Laporan kasus ini menjelaskan tentang kasus pasien dengan usia 15 bulan mengalami sesak napas secara tiba-tiba. Hasil saturasi 34% airroom. Ia tampak lemah dengan sianosis sentral dan perifer. Jari tangannya mulai mengalami clubbing finger. Hasil ekokardiografi memberikan kesan Tetralogy of Fallot (TOF) disertai Patent Foramen Ovale (PFO). Pasien mengalami anemia mikrositik hipokromik dengan kadar hemoglobin mencapai 6.00 g/dL. Status gizi pasien yaitu berat badan kurang dan sangat pendek. Upaya untuk menstabilkan hemodinamik diberikan kepada pasien. Kneechest adalah upaya pertama yang dilakukan. Ia diberikan oksigen 6 lpm dan mendapatkan transfusi PRC 150mL. Hemodinamik pasien mulai stabil dengan saturasi meningkat menjadi 70% dan sianosis mulai berkurang. Pasien dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap untuk tatalaksana selanjutnya. Tindakan kateterisasi telah direncanakan untuk pasien. Pasien diberikan propanolol 3x2mg untuk mengurangi serangan sianotik. Obat tersebut tetap diminum sampai pasien mendapatkan tindakan operasi complete repair.