Eddy Tjiahyono
RSUD dr. Sayidiman Magetan

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Eritroderma pada Laki-Laki Usia 77 Tahun: Laporan Kasus Fairuz Ulfah; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan dan sisik yang bersifat generalisata, yang mencakup 90-100% permukaan tubuh dan berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Apabila eritemanya mencakup 50 sampai <90% disebut dengan pre eritroderma. Faktor risiko dari eritroderma adalah perluasan dari penyakit kulit yang terjadi sebelumnya, seperti psoriasis, dermatitis atopik, penyakit sistemik atau keganasan (cuttaneous T-cell lymphoma), reaksi obat, dan pada beberapa kasus tidak ada etiologi yang spesifik, disebut dengan eritroderma idiopatik. Dalam kasus ini dilaporkan seorang laki-laki di poliklinik kulit dan kelamin Rumah Sakit Daerah Sayidiman Magetan, usia 77 tahun mengeluhkan gatal dan panas yang terus menerus di seluruh tubuh sejak 2 bulan yang lalu, gatal dan panas, memberat saat terpapar udara panas dan berkeringat, keluhan disertai pengelupasan kulit yang semakin lama semakin meluas dan kedua kaki pasien bengkak. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan faktor risiko yang berpengaruh pada kasus ini antara lain pasien sebelumnya mengalami sakit kulit berupa psoriasis. Dari pemeriksaan status dermatologis didapatkan ujud kelainan kulit berupa makula hiperpigmentasi eritematosa batas tidak jelas dengan deskuamasi berwarna putih tertutup skuama tipis. Diagnosis pada kasus ini adalah eritroderma. Maka dari kasus klinis yang kami temukan, kami tertarik untuk membahas kasus ini beserta kriteria diagnosis dan tatalaksananya.
Psoriasis Vulgaris: Laporan Kasus Lydia Ekaputri Nuroctaviani; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Psoriasis adalah suatu penyakit inflamasi kulit bersifat kronis residif, dapat mengenai semua umur yang ditandai dengan plak kemerahan yang ditutupi oleh sisik yang tebal berwarna putih keperakan dan berbatas tegas. Seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan bercak merah pada tangan, lengan, badan, kepala, tungkai dan kaki sejak ±10 tahun yang lalu dan hilang timbul. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya plakat eritem, bulat konfluen, multiple skuama kasar, berbatas tegas, generalisata. Pasien didiagnosis dengan psoriasis vulgaris dengan anjuran dilakukan pemeriksaan manipulasi yaitu tes Tetesan Lilin, tes Auzpits dan Fenomena Kobner. Terapi farmakologis yang diberikan yaitu loratadin tablet 10 mg satu kali sehari, metotrexat 2.5 mg tiga kali sehari/minggu, asam folat tablet 1 mg sekali sehari serta campuran urea 10% krim 20, desoxymethasone krim 10, dan betamethasone krim 10 dua kali sehari. Pasien diberikan edukasi mengenai cara perawatan kulit yang sakit, tidak menggaruk lesi.
Anak Laki-Laki Usia 12 Tahun dengan Skabies Estu Puguh Prabancono; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi kutu Sarcoptes scabiei varietas hominis. Pravelensi scabies pada tahun 2013 di indonesia sebesar 4,6%-12,95%. Penularan skabies mudah terjadi baik secara langsung (skin to skin) maupun tidak langsung. Tungau skabies dapat bertahan 2 – 6 jam pada suhu ruangan dan mampu penetrasi. Seorang anak laki-laki usia 12 tahun datang dengan keluhan gatal pada seluruh badan terutama pada sela-sela jari kedua tangan. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya lesi berupa papul eritem, berbatas tegas, multiple dan adanya ekskoriasi. Pasien didiagnosis dengan scabies in a children. Terapi farmakologis yang diberikan yaitu krim permethrin 5% malam hari dan Cetirizine satu kali 10mg tablet sehari. Pasien diedukasi untuk berhenti menggaruk bagian yang gatal, menjaga hygiene, rutin minum obat dan mengoleskan krim. Pencegahan dan pengobatan yang tepat pada penyakit skabies akan menurunkan angka kekambuhan yang timbul, hal ini dapat dihindari jika pasien patuh terhadap pengobatan dan melakukan pola hidup yang bersih dan sehat.
Laki-Laki 69 Tahun Dermatitis Atopik dan Kulit Kering: Laporan Kasus Gefeira Otiratu; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis yang disebabkan oleh paparan alergen dikenal sebagai dermatitis kontak alergi. Kekurangan air pada stratum korneum menyebabkan kulit kering yang disebut juga xerosis cutis. Kondisi yang disebutkan di atas umumnya terjadi pada populasi lanjut usia dan biasanya disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat dan sebaceous, berkurangnya keratinisasi, penurunan kadar ceramide dan faktor pelembab alami (NMF), atau kelainan mendasar lainnya. Di Indonesia, 63,78% kasus kulit kering dilaporkan ke RSCM antara tahun 2008 dan 2013. Gatal, atau pruritus, adalah salah satu tanda utama kulit kering yang menyertai lesi kulit seperti retakan, eritema, dan pengeroposan. Kulit kering lebih sering terjadi pada tulang kering, ekstensor, dan panggul. Mengoleskan pelembab secara topikal, mengubah gaya hidup, dan memodifikasi lingkungan sekitar merupakan strategi utama dalam mengatasi kulit kering. 10% urea atau 5% asam laktat adalah dosis yang dianjurkan untuk emolien dan petrolatum. Hindari penggunaan pelembab yang menyebabkan kulit sensitif atau iritasi. Mengubah gaya hidup, seperti mengurangi waktu mandi, memilih sabun yang tepat, dan mengontrol tingkat kelembapan, sangat penting untuk mengatasi kulit kering.
Laporan Kasus: Seorang Wanita Usia 70 Tahun dengan Dermatitis Kontak Alergi Rima Amalia; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis kontak alergi merupakan dermatitis yang terjadi akibat adanya pajanan terhadap bahan alergen yang kontak atau menempel pada kulit dimediasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe 4. Dilaporkan sebuah kasus seorang wanita berusia 70 tahun dengan diagnosis klinis dermatitis kontak alergi kronis. Gejala utama yang dirasakan yaitu gatal pada kedua ketiak, dada, punggung dan lipatan paha yang dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Terdapat riwayat penggunaan sabun mandi antiseptic setiap harinya dan riwayat penggunaan gel repellent setiap malam serta menggaruk pada area yang gatal. Terdapat riwayat alergi telur dan lele. Ujud kelainan kulit pada pasien di regio axilla, thorax dan dorsum berupa makula eritema/hiperpigmentasi, skuama dan batas tidak tegas. Penatalaksanaan yang diberikan berupa metilprednisolon tablet 4mg/12jam dikonsumsi setelah makan, loratadine tablet 10mg/12jam dikonsumsi jika gatal dan krim campuran yang mengandung desoximetasone 10gr, betametason 0.1% 10gr dan urea 10% 10gr diaplikasikan pada kulit 2 kali sehari segera setelah mandi. Pasien diberikan edukasi untuk tidak menggunakan sabun mandi antiseptic dan gel repellent, menjaga kebersihan kulit dan kelembapan kulit serta tidak menggaruk area yang gatal.
Laporan Kasus: Seorang Laki-Laki Usia 17 Tahun dengan Dermatitis Numularis Solikhatin Niza; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis numularis merupakan salah satu bentuk peradangan kulit dengan karakteristik berupa papul maupun papulovesikel yang berkelompok membentuk plak dengan gambaran koin berbatas tegas disertai krusta, oozing, serta skuama. Belum diketahui secara pasti mengenai etiopatogeneis penyakit ini, namun berbagai faktor risiko seperti alergi, kulit kering, fokus infeksi pada gigi, serta saluran pernapasan diduga dapat memicu terjadinya dermatitis numularis. Dalam kasus ini, pasien yang merupakan laki-laki berusia 17 tahun datang dengan keluhan gatal dan luka berbentuk bulat pada kaki yang menetap sejak 6 bulan sebelum datang ke Rumah Sakit. Keluhan juga disertai dengan rasa nyeri berdenyut ketika berjalan. Keluhan mulai timbul setelah pasien pulang berkebun, yang diawali dengan kulit terasa gatal, dan semakin lama timbul tonjolan berisi nanah hingga akhirnya lesi semakin meluas akibat papulovesikel yang pecah dan terjadi infeksi sekunder. Status dermatologis pada regio malleolus medialis dextra et sinistra didapatkan efloresensi berupa makula eritem, nummular, oozing, serta pustul berbatas tegas. Pasien kemudian diberikan terapi Klindamisin 300mg/12 jam, metilprednisolon 4mg/12 jam, loratadine 10mg/24 jam, dan krim racikan yang berisi fusycom 5gr dan dexosimethasone 5gr, dioleskan pada lesi tiap 12 jam.
Seorang Anak Laki-Laki 6 Tahun dengan Skabies Impetigenisata: Laporan Kasus Deanna Lailatul Azizah; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies diartikan sebagai penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, homisis dan produknya seperti telur dan feses. Infeksi terjadi akibat kontak langsung dari kulit ke kulit maupun kontak tidak langsung kulit melalui benda yang sering digunakan bergantian dengan orang lain, seperti handuk, pakaian, sprei, bantal, ditandai dengan gatal dan erupsi pada kulit. Skabies terjadi di seluruh dunia sekitar 300-400 juta kasus per-tahun. Sedangkan di beberapa negara berkembang prevalensi skabies sekitar 6%-27% populasi umum dan tinggi pada anak-anak hingga remaja. Kami melaporkan kasus seorang anak laki-laki berusia 6 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan gatal yang memberat terutama saat malam hari disertai bintil-bintil kemerahan sejak dua bulan yang lalu. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diagnosis awal pada pasien ini adalah Skabies Impetigenisata. Kasus ini menggambarkan Skabies Impetigenisata. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus Skabies Impetigenisata.
Seorang Perempuan Usia 28 Tahun dengan Tinea Cruris Et Corporis: Laporan Kasus Syah Fillia Nurul Maslahah; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea kruris dan korporis merupakan jenis dermatofitosis tersering yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia merupakan negara berkembang dengan iklim tropis yang menjadi faktor predisposisi terjadinya dermatofitosis. Faktor predisposisi penyakit ini adalah negara dengan iklim tropis, pekerjaan basah dan berat yang memicu keringat, dan sering terjadi pada wanita usia dewasa muda. Kelembaban tubuh yang tinggi menjadi faktor utama pencetus dermatofitosis. Laporan ini memaparkan kasus pasien seorang perempuan usia 28 tahun dengan tinea cruris et corporis di poliklinik kulit dan kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan. Pasien datang dengan keluhan utama berupa bercak kemerahan disertai gatal yang terletak di kedua tungkai bawah, pantat, perut, dan lipatan paha. Keluhan tersebut dirasakan pasien sejak 1 bulan sebelum pasien periksa. Pada pemeriksaan fisik dermatologi didapatkan gambaran klinis berupa makula/ plakat, eritem, bulat, skuama, dengan tepi aktif meninggi, dan central healing. Pasien kemudian diberikan terapi ketokonazole 1 x 200 mg, loratadine 1 x 10 mg selama 4 minggu, dan krim racikan yang berisi ketokonazole krim 10 gr dan gentamicyn krim 10 gr yang dioleskan 2 x sehari (pagi dan malam) selama 4 minggu pada lesi.
Laporan Kasus: Seorang Wanita Usia 21 Tahun dengan Dermatitis Kontak Alergi Filda Tri Sakti; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis kontak alergi (DKA) merupakan reaksi inflamasi pada kulit akibat pajanan alergen eksternal yang diperantarai oleh mekanisme hipersensitivitas tipe IV. Kasus ini cukup sering dijumpai, terutama pada wanita yang menggunakan produk kosmetik. Seorang wanita berusia 21 tahun datang dengan keluhan wajah tampak kemerahan disertai rasa perih, gatal, dan panas setelah penggunaan kosmetik. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya makula eritem difus pada wajah dengan inflamasi ringan tanpa tanda infeksi sekunder. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, ditegakkan diagnosis kerja dermatitis kontak alergi akibat paparan kosmetik. Pasien mendapatkan terapi kombinasi topikal dan sistemik berupa gentamicin 0,1% salep, mometasone furoate 1 mg/g krim, methylprednisolone 4 mg tablet, dan loratadine 10 mg tablet. Selain itu, pasien diberikan edukasi untuk menghentikan penggunaan kosmetik, menghindari paparan panas dan asap, serta menjaga kebersihan kulit dengan sabun wajah yang lembut. Dermatitis kontak alergi memerlukan diagnosis yang tepat serta edukasi pasien yang baik untuk mencegah kekambuhan. Penghindaran terhadap faktor pencetus dan pemilihan produk kulit yang aman menjadi aspek penting dalam keberhasilan terapi.