S Sudarmanto
RSUD Dr. Harjono S. Ponorogo

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Penyakit Jantung Reumatik pada Anak Gusti Reka Kusuma; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit jantung reumatik merupakan kelainan katup jantung yang menetap akibat demam reumatik sebelumnya. Demam reumatik disebabkan oleh infeksi streptococcus kelompok A sebelumnya. Penyakit jantung reumatik dapat menimbulkan stenosis atau insufisiensi atau keduanya. Terkenanya katup dan endocardium adalah manifestasi paling penting dari demam reumatik. Prevalensi PJR di Indonesia 0.3-0.8% dengan rentan usia 5-15 tahu. Kriteria diagnostik PJRditujukan untuk pasien yang datang pertama kali dengan mitral stenosis murni atau kombinasi stenosis mitral dan insufiensi mitral dan/atau penyakit katup aorta. Kami melaporkan Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dengan keluhan Nyeri dada sejak sore sebelum masuk rumah sakit. keluhan dirasakan hilang timbul dan terjadi selama 3 kali dengan durasi nyeri sekitar 5 menit. Pasien sempat demam sebelum nyeri dada dan beberapa kali mengeluhkan kaki nya nyeri namun tidak ada luka ataupun kemerahan. Keluhan lain seperti sesak (-) batuk pilek (-), Mual (-), Muntah (-) nyeri perut (-), kejang (-) BAB dan BAK dalam batas normal. Pasien baru pertama ini mengalami nyeri dada seperti yang di rasakan, tidak ada riwayat sakit sebelum masuk rumah sakit. Penatalaksanaan PJR terdiri dari tirah baring, pemusnahan streptococcus beta hemolyticus kelompok A, dan mensupresi inflamasi dari respon autoimun.
Penyakit Jantung Bawaan Sianotik pada Anak Laki-Laki Berusia 4 Tahun: Laporan Kasus Jimly Asshiddiqie; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan bentuk kelainan jantung yang sudah didapatkan sejak bayi baru lahir. Relatif tingginya angka kejadian PJB menyebabkan kelainan ini merupakan kelainan bawaan tersering di antara kelainan-kelainan bawaan jenis lain. Kami melaporkan presentasi klinis dan penatalaksanaan sebuah kasus anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) di rumah sakit Dr. Harjono S. Ponorogo. Seorang anak laki-laki umur 4 tahun dengan keluhan utama lemas dibawa ibunya ke IGD RSUD Dr. Harjono S. Ponorogo. Keluhan tambahan berupa kebiruan pada wajah terutama disekitar bibir dan di ujung jari tangan dan kaki. Keluhan tersebut diketahui sejak pasien baru lahir. Pasien terlihat lemas, kurang aktif, dan dadanya berdebar-debar. Kesan berat badan Pasienmenurun. Pemeriksaan tanda vital yaitu denyut nadi 121x/menit, frekuensi napas 54x/menit, suhu tubuh 36,2C, dan saturasi oksigen 53%, murmur (+).Status generalis: wajah terutama disekitar bibir sianosis; leher, pulmo, abdomen dalam batas normal; ekstremitas akral hangat, clubbing finger. Status lokalis cor: inspeksi iktus cordis tidak terlihat, palpasi iktus cordis teraba tapi tidak kuat angkat, perkusi sulit dievaluasi, auskultasi suara jantung I dan II reguler cepat. Penatalaksanaan anak PJB harus dilakukan secara menyeluruh. Beberapa penyulit dapat terjadi pada pasien PJB sianotik yang akan menetukan prognosis.
Ensefalopati Hipoksik Iskemik pada Neonatus Laki-Laki: Sebuah Laporan Kasus Yusnia Fatrotun Nisak; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ensefalopati Hipoksik Iskemik (EHI) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian bayi baru lahir di dunia dengan etiologi asfiksia pada saat intrauterin maupun postnatal. Faktor risikonya, meliputi faktor risiko medis dan sosial ekonomi. Manifestasi klinis antara lain nilai APGAR rendah saat persalinan, kejang, asidosis metabolik darah umbilikal, serta adanya defisit neurologis jangka panjang. Seorang bayi laki-laki datang dengan keluhan keluhan kejang dan sianosis. Pasien lahir pada usia kehamilan 40 minggu, berat badan lahir 3.000 gram, panjang badan 48 cm, lingkar kepala 34 cm, dan APGAR Score 4-5-6. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum bayi tampak lemah, suhu 38oc, denyut jantung 160x/menit, RR 70x/menit, SpO2 92%. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, bayi didiagnosis dengan neonatus ensefalopati hipoksik iskemik, neonatus aterm, neonatus BBLC, neonatus lahir spontan, dan neonatus sesuai masa kehamilan. Prinsip tatalaksana bayi baru lahir dengan EHI, yaitu dengan mengidentifikasi sedini mungkin, terapi suportif intensif, dan intervensi dalam menghentikan proses cedera otak. Prognosis HIE diperkirakan dari kesembuhan total sampai kematian yang berhubungan dengan derajat keparahan cedera, onset cedera, dan tatalaksana.
Neonatus dengan Makrosomia dan Hipoglikemia: Laporan Kasus Rizky Febri Lestari; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makrosomia adalah istilah untuk neonatus dengan berat badan lebih dari 4000gr atau berat bayi lahir dalam persentil 90 terhadap usia kehamilan. Faktor risiko yang mempengaruhi bayi terlahir besar salah satunya adalah diabetes melitus gestasional dan obesitas pada ibu. Hipoglikemia adalah kadar gula plasma kurang dari 2,6 mmol/L. Komplikasi bagi bayi dengan hipoglikemia persisten memiliki tingkat morbidtas dan mortalitas yang lebih tinggi secara signifikan 25% - 5% memiliki kelainan perkembangan. Seorang bayi laki- laki berusia 1 hari datang dengan keadaan hipoglikemia karna makrosomia. Pasien lahir dengan sectio caesaria karena bayi lahir besar dengan usia kehamilan 38 minggu tanggal 7 april 2022 dan Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiratory (APGAR score)7-8. Berat badan bayi 5260 gram dengan panjang badan 50 cm. Pasien merupakan anak pertama pada kehamilan pertama. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien lemah. Nadi/RR/Suhu/SPO2: 150 x/menit reguler, 45x/menit reguler, 36°C, 92%. Pasien didiagnosis dengan makrosomia dengan hipoglikemia. Tatalaksana bayi dengan obeservasi di perawatan intensif untuk evaluasi hipoglikemia,hyperbilirubinemia dan kelainan elektrolit. Komplikasi janin makrosomia berupa dystocia bahu, distress janin, ketidakseimbangan metabolic dan electrolit, dan hyperbilirubinemia. Ibu dengan diabetes melitus gestasional salah satu faktor risiko pertumbuhan abnormal bayi dengan berbagai komplikasi.
Bayi Laki-Laki Usia 31 Hari dengan Necrotizing Enterocolitis Ayu Ardita Dewi Permatasari; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Necrotizing Enterocolitis (NEC) merupakan penyakit inflamasi gastrointestinal yang umum dan sering terjadi pada bayi prematur (90%) dan (10%) pada bayi lahir cukup bulan (aterm). NEC adalah sindrom nekrosis intestinal akut yang ditandai dengan kerusakan intestinal mulai dari cedera mukosa hingga nekrosis dan perforasi. Gejalanya dapat bervariasi seperti apnea, demam, lesu, distensi abdomen, tinja berdarah, pemberian makan yang buruk dan muntah. Dilaporkan bayi laki-laki berusia 31 haridengan keluhan BAB cair berulang lebih dari 5 kali sehari berwarna kehijauan bersama lendir tanpa darah. Pasien tampak rewel, menangis lemah, sulit menyuusu, kesadaran compos mentis, suhu 36,8° C, nadi 136x/menit, pernapasan 45x/menit, Berat badan 4 kg, dengan abdomen distended, bising usus (+).Pemeriksaan elektrolit didapatkan peningkatan kadar kalium, penurunan kadar natrium dan klorida. Pemeriksaan X-Ray abdomen posisi supine dan LLD( Left Lateral Decubitus) didapatkan gambaran peningkatan udara pada usus. Tatalaksana yang diberikan yaitu rehidrasi cairan, Antibiotik, Dexametason dan Alinamin f. Pasien dipuasakan dan dilakukan dekompresi dengan pemasangan NGT dan darm buise.
Kejang Demam Kompleks pada Anak Laki-Laki Usia 4 Tahun : Laporan Kasus Reno Latif Hasyim; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh lebih dari 38 derajat yang disebabkan karena adanya proses Ekstrakranium. pada anak berusia kurang. dari 6 tahun, tidak terdapat adanya bukti. infeksi sistem saraf pusat. maupun ganguan metabolik sistemik akut. Kejang, demam sederhana. sekitar 80% diantara seluruh. kejang. Diagnosis kejang. demam hanya,dapat.ditegakkan.dengan menyingkirkan hal-hal. lain yang dapat.menyebabkan kejang, di antaranya: infeksi susunan saraf pusat perubahan mendadak pada keseimbangan homeostasis air dan elektrolit dan adanya lesi struktural pada sistem saraf seperti epilepsi. Diperlukan anamnesa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang menyeluruh untuk menegakkan diagnosis ini Pasien yang terdiagnosis mengalami kejang demam perlu ditatalaksana dengan segera untuk mencegah kerusakan neuron lebih lanjut Anak Laki-laki Usia 4 Tahun 3 Bulan. Dengan Kejang Demam Kompleks Anak usia 4 tahun 3 bulan datang dengan keluhan kejang. Kejang sejak 1 hari SMRS. Kejang terjadi >1 kali selama <15 menit dalam kurun waktu 24 jam. Pasien sebelumnya mengalami demam tinggi sejak sebelum kejang, demam tinggi secara tiba-tiba 2 hari yang lalu dan masih di rasakan sampai saat ini, suhu tubuh pasien mencapai 39., refleks,fisiologis.normal, rekfleks patologis,dan.rangsang meningeal. Hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin dalam batas normal. Terapi,medikamentosa.yang dilakukan, yaitu O2 Nasal 1 lpm, Infus RL 15 tpm Inj. Cefotaxim 3x250mg, Inj. Santagesic 3x200 mg, Inj. Dexamethason 3x1/3 amp, Inj. Phenitoin 3x100 mg, PO Sanmol syr 3 x1 cth serta edukasi kepada keluarga. Simpulan: Tatalaksana kejang demam kompleks dilakukan secara menyeluruh mulai dari tatalaksana fase akut mencari dan Mengobati penyebab profilaksis terhadap berulangnya kejang demam dan edukasi kepada keluarga.
Seorang Bayi Laki-Laki Berusia 4 Bulan dengan Immune Thrombocytopenia Purpura (ITP) M. Rizki Aditya; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Immune thrombocytopenia purpura (ITP) merupakan suatu kelainan perdarahan yang disebabkan oleh penurunan jumlah trombosit (<100.000) akibat adanya reaksi autoantibodi. Berdasarkan data dari American Society of Hematology (ASH) 2019, insidensi ITP sekitar 2-5 per 100.000 dan 40% kasus diantaranya terjadi pada anak usia dibawah 10 tahun.persentase kejadian ITP akut yang berkembang menjadi kronik adalah 7-28%. Komplikasi perdarahan berat pada anak dilaporkan sebesar 20.2% dan intracranial hemmorage (ICH) sekitar 0,10-o,4%. Pada kasus ini kami melaporkan seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan datang dengan keluhan kedua telapak kaki berwarna kebiruan dan kejang yang terjadi sejak 7 jam SMRS. Keluhan adanya telapak kaki berwarna biru timbul secara perlahan, semakin luas dan jelas warnanya. 2 hari sebelum adanya keluhan, pasien sempat mengalami demam dengan suhu tertinggi adalah 39,9oC. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya ptechie pada beberapa bagian tubuh dan adanya melena. Pada pemerikaan penunjang didapatkan adanya peningkatan leukosit (16,76 x103/uL), trombositopenia (24x103/uL). Terapi medikamentosa yang diberikan adalah Meropenem 3x250 mg, metilprednisolon 3x50 mg, IVIg 1x1/4, Vitamin K 1x2 mg, dan asam traneksamat 3x75 mg. Pada kasus ITP terapi dengan menggunakan IVIG dan kortikosteroid tetap menjadi pilihan utama dan Pada kebanyakan kasus akan terjadi remisi secara spontan pada tahun pertama.