Budi Yuwono
RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Apendisitis Kronis dan Hernia Inguinalis Lateralis Reponibel Dextra dengan Simpel Apendektomi dan Hernia Repair: Laporan Kasus Lian Adhalia; Budi Yuwono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apendisitis merupakan peradangan pada apendiks vermiformis yang terjadi karena obstruksi lumen yang disebabkan oleh hiperplasi folikel limfoid, fekalit, parasit dan tumor. Kasus ini menjelaskan seorang pasien laki-laki 49 tahun dengan nyeri perut kanan bawah dan area bawah pusar yang dirasakan semakin memberat saat aktivitas dan diperingan dengan posisi tungkai atas ditekuk. Pasien juga mengeluhkan adanya mual dan muntah. Pasien juga mengeluhkan adanya benjolan di lipatan paha kanan yang muncul saat pasien melakukan aktivitas berat dan seringkali benjolan berpindah di skrotum. Benjolan bisa menghilang jika pasien memasukkannya kembali dengan jari. Benjolan muncul sejak 10 tahun SMRS, pasien tidak merasakan adanya nyeri. Pada pemeriksaan lokalis didapatkan tampak benjolan berbentuk memanjang di regio inguinalis dextra, warna sama dengan kulit sekitar, saat pasien batuk dan mengejan benjolan tampak berpindah ke skrotum dan pada Palpasi terdapat benjolan yang bisa di reposisi. Pada pemeriksaan penunjang USG didapatkan kesan apendisitis kronis. Pasien ini didiagnosis Apendisitis Kronis Dan Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Reponibel dan dilakukan tindakan Apendektomi Dan Hernia Repair.
Seorang Wanita Berusia 43 Tahun dengan Tumor Mammae Dextra Salma Angelina Hanifah; Budi Yuwono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor mammae adalah kondisi patologis yang melibatkan pertumbuhan jaringan abnormal pada payudara. Tumor ini dapat bersifat jinak atau ganas dan sering kali menimbulkan gejala seperti benjolan, nyeri, atau perubahan pada jaringan payudara. Tumor mammae merupakan salah satu kondisi paling umum pada wanita, dengan prevalensi yang meningkat terutama pada kelompok usia 30 tahun ke atas. Di seluruh dunia, kanker payudara menjadi salah satu dari tiga jenis kanker paling umum, dengan tingkat insidensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Dalam laporan ini, dibahas kasus seorang wanita berusia 43 tahun yang mengeluhkan benjolan di payudara kanan yang sudah dirasakan selama satu minggu. Benjolan tersebut memiliki diameter 4 cm, berbatas tegas, dan mobile tanpa disertai kemerahan atau nipple discharge. Pemeriksaan penunjang seperti FNAB, ultrasonografi, mamografi, dan tumor marker diusulkan untuk menegakkan diagnosis definitif. Penanganan yang disarankan meliputi tindakan operasi, seperti lumpektomi atau mastektomi, dengan terapi adjuvan untuk mencegah kekambuhan. Studi ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan pengelolaan yang tepat dalam menangani tumor mammae guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Seorang Wanita Usia 34 Tahun dengan Abses Mammae Dextra Alda Amelia Rifat; Budi Yuwono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abses mammae adalah akumulasi nanah di jaringan payudara yang sering terjadi pada wanita menyusui akibat mastitis. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang signifikan, serta memengaruhi kualitas hidup pasien. Laporan ini membahas kasus abses mammae dextra pada seorang wanita berusia 34 tahun. Tujuan: Menganalisis penyebab, diagnosis, dan penatalaksanaan abses mammae dextra pada pasien serta memberikan wawasan mengenai pendekatan klinis yang optimal. Metode: Pendekatan deskriptif dilakukan berdasarkan data anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penunjang. Penanganan meliputi insisi dan drainase abses, serta pemberian terapi antibiotik yang sesuai. Hasil: Pasien mengeluhkan nyeri payudara kanan sejak dua minggu sebelum masuk rumah sakit, dengan gejala demam, bengkak, dan kemerahan. Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (13,6 x 10^3/μL) dan anemia ringan. Pasien didiagnosis dengan abses mammae dextra. Intervensi berupa insisi dan drainase berhasil dilakukan, diikuti oleh pemberian antibiotik ampisilin dan analgesik. Pasien menunjukkan perbaikan klinis setelah beberapa hari perawatan. Kesimpulan: Penatalaksanaan abses mammae yang meliputi drainase dan terapi antibiotik efektif dalam mengatasi infeksi dan gejala klinis. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.